Negeri Ruta Rawan Terjadi Keretakan Tanah, BPBD Malteng Datangkan Tim UGM | Berita Maluku Online Berita Maluku Online
Loading...

Negeri Ruta Rawan Terjadi Keretakan Tanah, BPBD Malteng Datangkan Tim UGM

BERITA MALUKU. Keretakan tanah di Negeri Ruta, Kecamatan Amahai, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng) yang terjadi saat ini, terbilang rawan. Masyarakat setempat pun merasa cemas akan ancaman bahaya tersebut. Pasalnya, struktur tanah pada lereng gunung di wilayah tersebut saat ini sedang mengalami pergeseran cukup signifikan.

Fenomena ini dinilai dapat mengancam keselamatan masyarakat, apalagi areal keretakan berdekatan dengan pemukiman penduduk.

Meski keretakan tanah masih kategori awas, namun pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Malteng telah meresponya dengan mendatangkan tim penerapan sistim peringatan dini gerakan tanah dari Universitas Gajah Mada (UGM) untuk melakukan survei, sekaligus memasang alat atau alarm peringatan bencana longsor di negeri tersebut.

Koordinator Lapangan Tim Penerapan Sistim Peringatan Dini Gerakan Tanah dari Fakultas Teknik Universitas Gajamada, Bagus B. Kamarullah kepada Berita Maluku Online di Masohi, ibukota Kabupaten Malteng, Jumat (16/9/2016) mengatakan, Negeri Ruta rawan terjadi keretakan atau pergeseran tanah pada lereng gunung yang berdekatan dengan pemukiman penduduk.

"Kami ditugaskan Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BPBN) untuk memenuni undangan dari Badan Penanggulangan Daerah (BPBD) Maluku Tengah sehubungan degan adanya resiko pergerakan tanah atau bencana longsor di Negeri Ruta. Resiko gerakan tanah itu bukan patahan. Dari hasil survei yang kami lakukan di lapangan terjadi pergerakan tanah yang sangat rawan dan dapat mengalami gerakan atau ancaman tanah  longsor," jelas Kamarullah.

Menurutnya, salah satu tanda rawan munculnya retakan-retakan tanah di Ruta, ditemukan tak hanya pada satu lokasi tetapi ada beberapa titik retakan tanah dengan panjang mencapai kurang lebih 60 hingga 80 meter.

Dikatakan, terdapat tiga faktor yang mempengaruhi pergerakan tanah yang terjadi di Ruta, antara lain, Faktor alami yakni pada kemiringan lereng.

"Jadi, gunung yang berdekatan dengan rumah penduduk memiliki kemiringan yang cukup suram, sehingga bisa beresiko keretakan tanah," katanya.

Kedua, tidak adanya saluran air buatan. "Jadi air yang mengalir begitu saja di lereng yang curam akan berisiko keretakan tanah, sehinggai kami sarankan kepada masyarakat setempat untuk melakukan rekayasa penyaluran air atau pembuatan saluran air yang lebih baik. Kalau ada keretakan tanah harus segera ditutup," sarannya.

Faktor ketiga menurut Kamarullah, adalah pemilihan tanaman yang bisa memperkuat atau tanaman akar tunggal sehingga bisa menahan tanah pada kemiringan lereng tersebut," jelasnya.

Dikatakan, tim sudah memasang tiga alat peringatan di Ruta. Yakni, alat penangkal curah hujan atau masuk pada level waspada.

Sementara alat yang kedua merupakan alat pengukur kemiringan masuk pada level siaga. Dan alat yang ketiga adalah alat pengukur kemiringan tanah.

“Jadi kalau serine alat ke tiga yang berbunyi, berarti masyarakat yang berada berdekatan dengan lokasi segera mengungsi,” katanya.

Ia juga mengatakan, tim sudah mensosialisasikan kepada msyarakat setempat terkait dengan bahya keretakan tanah.

Pria ini memperkirakan pada kelerengan tebing di Ruta jika terjadi bencana pergeseran tanah yang tinggi bisa menjangkau kurang lebih 150-200 meter dari permukaan lereng.

"Jadi sangat beresiko terhadap penduduk yang berada pada jarak lereng tersebut atau bisa menutup sebagian kampung ruta,"" jelasnya.

Dikatakan, tim telah memasang peta rawan longsor.

"kami juga telah memasang peta bencana longsor sehingga masyarakat sudah bisa mengetahui rumah mereka berada pada zona aman atau zona bahaya," tutupnya. (KAYUM/e)
Malteng 5395698057439942576

Poskan Komentar

emo-but-icon

Beranda item

# PILKADA KOTA AMBON

Indeks

# TNI-POLRI

Indeks

#PARIWISATA

# NASIONAL

Indeks

#ANEKA

Kurs Mata Uang