Ratusan Personel Amankan Tradisi Pukul Sapu Mamala-Morela | Berita Maluku Online Berita Maluku Online
Loading...

Ratusan Personel Amankan Tradisi Pukul Sapu Mamala-Morela

BERITA MALUKU. Sedikitnya 500 personel kepolisian dikerahkan untuk mengamankan pelaksanaan tradisi adat pukul sapu lidi di dua desa bertetangga, yakni Mamala dan Morela, Kabupaten Maluku Tengah pada 7 Syawal 1436 Hijriyah, 24 Juli 2015.

"500 personel yang merupakan gabungan Polres Pulau Ambon dan Pulau-Pulau (PP) Lease serta Polda Maluku dikerahkan untuk mengamankan tradisi dan budaya di kedua desa tersebut," kata Kabag Ops Polres Pulau Ambon dan PP Lease, AKP Bakrie Hehanussa di Ambon, Kamis (23/7/2015).

Ratusan personel Polri dibantu TNI akan dikerahkan untuk melakukan pengamanan di perbatasan kedua desa bertetangga dan memiliki hubungan pertalian darah tersebut, menyusul ketegangan yang terjadi pada 19 Juli 2015 yang mengakibatkan anggota Brimob Polda Maluku, Bripka Faizal Lestaluhu meninggal.

"Seluruh personel telah ditempatkan pada pos-pos pengamanan yang ditentukan, terutama pada perbatasan kedua desa tersebut, guna mengantisipasi hal-hal tidak diinginkan saat tradisi budaya yang telah dilakukan sejak abad 16 sejak abad 16 saat penjajahan Portugis dan Belanda itu berlangsung," katanya.

Menurut dia, tidak ada personel yang ditempatkan di dalam kampung, tetapi semuanya terkonsentrasi di wilayah perbatasan.

Polres Ambon, kata Bakrie, sebenarnya telah menyampaikan surat resmi yang isinya melarang pelaksanaan tradisi adat tersebut sejak Rabu (22/7) malam. Larangan tersebut guna mengantisipasi hal-hal tidak diinginkan dan memperburuk kondisi keamanan di Kota dan Pulau Ambon, menyusul ketegangan yang terjadi pada 19 Juli 2015.

Tetapi berdasarkan hasil koordinasi dan rapat bersama dengan tokoh pemuda kedua desa, Gubernur Maluku serta pimpinan TNI/Polri pada Kamis pagi disepakati tradisi budaya tersebut hanya dilaksanakan secara internal dan tanpa penonton.

Dia mengakui, pelaksanaan tradisi pukul sapu yang telah dikenal luas hingga ke mancanegara tersebut, setiap tahunnya menyedot perhatian puluhan ribu orang untuk datang menyaksikannya.

"Tetapi tahun ini disepakati pelaksanaannya hanya untuk kalangan internal warga desa Morela dan Mamala saja. Warga yang datang dari berbagai daerah untuk menyaksikannya akan dibatasi, sehingga tidak menimbulkan hal-hal tidak diinginkan dan memicu ketegangan baru," katanya.

Sebelumnya, Gubernur Maluku Said Assagaff membenarkan pembatasan tradisi budaya pukul sapu di Desa Mamala-Morela hanya untuk kalangan internal saja.

Gubernur menegaskan, pihaknya maupun pimpinan TNI/Polri tidak bermaksud menghalangi warga yang akan datang berbondong-bondong untuk menyaksikan tradisi budaya yang menjadi kalender tetap pariwisata Maluku setiap tahun tersebut, tetapi semata-mata karena mempertimbangkan situasi dan kondisi keamanan.

Menurut Gubernur, warga kedua desa bertetangga tersebut harus menyadari dan memaknai nilai sejarah ritual adat tersebut, sehingga tidak terjadi pertikaian antarwarga di tahun-tahun mendatang.

"Warga kedua desa harus merenungi dulu nilai-nilai historis yang diwariskan para leluhur agar tidak menodai budaya yang seharusnya dimaknai dan dikembangkan menjadi aset wisata berskala internasional," ujar Gubernur Said.

Dia membenarkan ketegangan dua warga desa bertetangga itu menjadi alasan Polres pulau Ambon dan pulau - pulau Lease melarang penyelenggaraan ritual adat tersebut.

Warga kedua desa hendaknya menyadari makna dari tradisi tersebut sehingga tidak bertikai karena itu sama saja dengan menodai warisan leluhur paska 7 hari merayakan 1 Syawal.

"Dalam nuangsa Idul Fitri hendaknya jangan bertikai lagi sehingga tradisi pukul sapu yang setiap tahun penyelenggaraannya dihadiri belasan ribu penonton itu bisa terbuka untuk umum," tegas Gubernur Said. (ant/bm 01)
Kebudayaan 4069943237969228588

Poskan Komentar

emo-but-icon

Beranda item

# PILKADA KOTA AMBON

Indeks

# TNI-POLRI

Indeks

#PARIWISATA

# NASIONAL

Indeks

#ANEKA

Kurs Mata Uang