Fatayat NU Maluku Diharapkan Jadi Provokator Kerukunan dan Perdamaian | Berita Maluku Online Berita Maluku Online
Loading...

Fatayat NU Maluku Diharapkan Jadi Provokator Kerukunan dan Perdamaian

BERITA MALUKU. Secara teologis, Islam Wasathiyah (Islam moderat) yang tergambar dalam spirit Islam Nusantara dewasa ini, meniscayakan kita untuk bisa menerima realitas masyarakat yang multikultural. Betapapun berbedanya kita, “ale Sarane, ale Hindu, ale, Budha, Beta, Islam, tetap katong samua basudara.” Ale orang Seram, ale orang Tenggara, ale orang Lease, ale  orang Buru, tetap Beta Maluku.

Itu Artinya ke-Islam-an, ke-Indonesia-an dan ke-Maluku-an, harus terintegrasi secara baik, dalam rangka mewujudkan Maluku sebagai laboratorium kerukunan dan kedamaian terbaik di Indonesia.

Untuk itu, Gubernur Maluku Ir. Said Assagaff berharap, Fatayat Nuhdatu Ulama (NU) Maluku harus menjadi salah satu agen provokator kerukunan dan perdamaian tersebut.

“Semua upaya tersebut kita lakukan dalam rangka pembangunan Maluku yang rukun, damai, aman, sejahtera, adil, berdaya saing, dan relijius, dijiwai semangat Siwalima,” ujar Gubernur disela-sela pelantikan Pengurus Wilayah Fatayat NU Provinsi Maluku dan Pengurus Cabang Fatayat NU Kota Ambon Masa Khidmat 2016-2021, yang berlangsung di islamic center, Jumat (10/3/2017).

Selain itu juga, Fatayat NU harus bertransformasi menjadi organisasi Islam yang sehat dan visioner.

“Apa yang saya sampaikan dikarenakan salah satu masalah yang cukup serius yang menghinggapi organisasi Islam daerah ini adalah masih kuatnya budaya paternalistik dan pro-status quo, (dimana satu kepengurusan berjalan tanpa batas waktu yang jelas), bahkan ada yang menjadi ketua dan sekretaris sampai berpuluh tahun. Pengurus seperti ini termasuk kategori orang yang mengalami post power syindrom. Selain itu tata kelola organisasi dan programnya pun masih sangat semrawut alias abal-abal, atau orang Ambon bilang takapa-kapa atau talamburang,” ujar Gubernur.

Dikatakan, Maluku sangat membutuhkan kehadiran organisasi-organisasi perempuan, seperti Fatayat NU untuk berperan aktif memberi respon cerdas terhadap persoalan-persoalan tersebut. Dimana isu-isu tersebut juga menjadi masalah fundamental di Maluku, khususnya masalah kesejahteraan keluarga, masih kuatnya budaya patriakhi, masih tingginya angka kekerasan terhadap perempuan dan anak, tingginya penderita HIV/Aids (dimana perempuan dan anak menjadi kelompok yang rentan terjangkiti), dan sebagainya.

“Hal yang lebih ironis lagi, masalah-masalah seperti ini banyak mendera masyarakat kalangan bawah, yang ada di desa-desa, yang sulit untuk bisa kita intevensi, karena masalah konektivitas dan aksesibilitas wilayah kepulauan kita yang begitu luas,” ucapnya.

Sebagai organisasi yang lahir dari rahim Nahdatul Ulama, dirinya berharap, Fatayat NU tetap berada di garda terdepan dalam merawat keutuhan umat dan bangsa ini.
Aneka 5826454365246259481

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

# DPRD MALUKU TENGAH

Indeks

# Kota Ambon

Indeks

# TNI - POLRI

Indeks

#ANEKA

Indeks

Kurs Mata Uang