Tua-Tua Adat Tuhaha Tangisi Penggunaan Parang Kayu Pada Peringatan Hari Pattimura | Berita Maluku Online Berita Maluku Online
Loading...

Tua-Tua Adat Tuhaha Tangisi Penggunaan Parang Kayu Pada Peringatan Hari Pattimura

BERITA MALUKU. Maluku dikenal sebagai Provinsi Seribu Pulau di mana pulau-pulaunya yang tersebar di berbagai wilayah dengan keberagaman budaya yang sudah tentu berakar dari keberagaman nilai-nilai yang ada dalam masyarakat adat.

Keberagaman nilai dalam masyarakat adat di Maluku merupakan warisan nenek moyang yang memiliki potensi untuk didayagunakan untuk menunjang kehidupan bersama masyarakat.

Nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat adat sebagai nilai-nilai kultural warisan nenek moyang sangat diyakini kebenarannya sebagai patokan dalam bertindak serta patokan bagi perilaku masyarakat adat setiap saat sehingga tidak serta merta dapat berubah tetapi melalui proses sehingga nilai yang dipertahankan namun ada juga yang sudah mulai hilang dari kehidupan masyarakat.

Salah satu nilai-nilai adat yang sudah mulai di hilangkan, yaitu penggunaan parang pada tarian cakalele dalam mengiringi proses api unar pahlawan Thomas Matulessy atau biasa dikenal Pattimura, yang berlangsung di gunung saniri, Tuhaha untuk dibawah ke Waisisil, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku.

Padahal penggunaan parang asli sudah menjadi warisan nenek moyang setiap peringatan hari Pattimura dari tahun ke tahun.

Penggunaan parang kayu tentunya menimbulkan kekecewaan di hati masyarakat, terutama tua-tua adat negeri Tuhaha yang setiap tahunnya mengikuti proses api unar di gunung saniri.

Bahkan, saat proses adat api unar berlangsung di gunung saniri, tua-tua adat lebih memilih untuk berkumpul di baileo negeri Tuhaha, dan hanya bisa menangisi proses adat yang tidak sesuai lagi dengan warisan nenek moyang.

Bukan hanya tua-tua adat yang memilih tinggal di baileo, masyarakat juga memilih tinggal di rumah sambil membicarakan penggunaan parang kayu, yang tidak sesuai dengan adat istiadat dalam perayaan hari pattimura.

Salah satu tua adat negeri Tuhaha, Ena Loupatty kepada Berita Maluku Online, Sabtu (14/5/2016) mengungkapkan, ia sangat menyesali penggunaan parang kayu dalam proses api unar. Mengingat penggunaan parang kayu sudah menyalahi adat perayaan hari Pattimura, seharusnya menggunakan parang asli.

“Sebagai masyarakat biasa, kami tidak bisa berbuat apa-apa lagi menanggapi kebijakan yang dibuat oleh pemerintah dan aparat keamanan, dalam melarang penggunaan parang asli,” ucapnya. 

Menurutnya, parang asli merupakan benda yang sakral dan melekat dengan pahlawan Pattimura. Untuk itu dirinya berharap pada peringatan hari Pattimura ke-200 tahun 2017 mendatang, parang asli bisa dipergunakan dalam proses adat.
Kebudayaan 7992187931215054382

Poskan Komentar

emo-but-icon

Beranda item

# PILKADA KOTA AMBON

Indeks

# TNI-POLRI

Indeks

#PARIWISATA

# NASIONAL

Indeks

#ANEKA

Kurs Mata Uang