Peneliti UGM: Bahasa di Maluku Jangan Sampai Punah, Perlu Ditransform | Berita Maluku Online Berita Maluku Online
Loading...

Peneliti UGM: Bahasa di Maluku Jangan Sampai Punah, Perlu Ditransform


Ambon - Berita Maluku. "Bahasa yang digunakan orang Maluku saat ini jangan sampai punah atau musnah, namun perlu ditransform atau ditingkatkan sehingga orang lain mungkin harus belajar, kenapa tidak," demikian saran dua peneliti dari Pusat Studi Pedesaan dan Kawasan Universitas Gajah Madah (PSPK UGM) Jogjakarta, AB. Widyanta, MA dan Ayu Diasti Rahmawati, Kamis (11/6/2015).

Kedua peneliti ini berada di Ambon selama kurang seminggu dalam rangka melakukan pendalaman berkaitan dengan pelayanan publik terhadap masyarakat adat di daerah ini.

Berita Maluku pun menyambangi keduanya dan meminta tanggapan soal keberagaman bahasa yang digunakan khususnya masyarakat di kota Ambon, dimana masyarakat yang plural berasal dari berbagai etnis terutama dari daerah-daerah Maluku sendiri yang memiliki banyak keberagaman bahasa, namun keberagaman itu membuat mereka mampu berbaur dan hidup saling berdampingan.

Widyanta menanggapinya dan mengambil contoh dengan daerah Jogjakarta.

Menurutnya, kerajaan-kerajaan di Jogja dengan di Maluku beda. Di Maluku meski kerajaan kecil-kecil namun tingkat bahasa yang beragam. Tetapi kalau di Jogja, kebudayaannya dan bahasanya Jawa tunggal, dimana disana orang tahu hanya bahasa Indonesia atau bahasa Jawa, sementara di Maluku sangat plural.

"Plural bukan saja berkaitan dengan teritori tapi juga soal etnisitas maupun bahasa, selain kuliner juga berbeda-beda. Jadi bahasa di jogja memang terkesan belum punah, itu karena bahasanya tunggal," jelasnya.

Ia juga menekankan soal bahasa yang dikatakan hampir punah. "Disini tidak perlu dibilang punah/musnah. Di Maluku memiliki keberagaman bahasa yang perlu dihargai sebagai bentuk pluralisme, dimana bahasa yang digunakan adalah bahasa nasional. Bahasa nasional untuk mempersatuan keberagaman, sementara bahasa yang ada di daerah ini jangan sampai punah/musnah atau tidak digunakan sama sekali, sehingga perlu ditransform atau ditingkatkan agar orang lain mungkin harus belajar," sarannya.

Dikatakan, terkait multikultural (proses kultur) melalui perjumpaan-perjumpaan harus juga dimaknai sebagai bagian dari ekualiti bahwa kehadiran kebudayaan ini adalah tidak saling memusnahkan dimana orang-orang saling beradaptasi sehingga mereka dapat mengadopsi bahasanya.

"Jadi musti saling bertukar multikultural begit pun bahasanya," jelasnya.

Keduanya sangat tertarik dan ingin mendorong teman-teman pemuda di daerah ini agar kedepan perlu melestarikan beberapa bahasa-bahasa lokal yang sangat spesifik yang kemudian dapat dilestarikan ke anak cucu. "Bahwa keberagaman bahasa menjadi tantangan bagi generasi hari ini dan masa depan bagi anak cucu," katanya.

Dirinya meminta agar generasi muda di Maluku dapat mempertahankan bahasa bukan saja melalui tutur tetapi dapat ditransform melalui media dengan bahasa tulis.

"Medianya kan justru sekarang sangat banyak. Perlu untuk dimasukan ke media sehingga saya kira tidak hanya melalui proses tutur tetapi bahasa tulis juga sudah mesti dimasukan ke media. Sekarang ini kan era multimedia yang dipakai untuk melestarikan bahasa, kalau ini dilakukan sehingga masyarakat tetap ada rasa memiliki bahasa lokal itu sebagai kekayaan," saran Widyanta. (wage)
Kebudayaan 6863993588006287015
Beranda item

# PILKADA KOTA AMBON

Indeks

# TNI-POLRI

Indeks

#PARIWISATA

# NASIONAL

Indeks

#ANEKA

Kurs Mata Uang