Menelisik MBD, Jantung Selatan NKRI (1): Mahakarya Arsitektur Dewala Perahu Lolotuara | Berita Maluku Online Berita Maluku Online
Loading...

Menelisik MBD, Jantung Selatan NKRI (1): Mahakarya Arsitektur Dewala Perahu Lolotuara


Kabupaten Maluku Barat Daya tak hanya dikenal luas sebagai wilayah deposit Gas Alam Cair (Liquid Natural Gas) abadi, emas, tembaga, serta mineral-mineral dan tambang-tambang lainnya dalam jumlah besar.

WILAYAH di selatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) itu juga diakui ‘surga wisata’ bagi siapapun yang pernah menginjakkan kaki maupun ingin menikmati kemolekkan pantai-pantai pasir putih perawan, melukis pagi (sunrise) dan senja (sunset) di bibir pantai nan seksi, menyaksikan tingginya peradaban megalitik berikut keahlian rancang bangun bangunan tradisional penduduknya,  melongok beragamnya motif tenunan kain tanah, seni ukir, seni tari dan seni menganyam manual, menelusuri jejak-jejak peninggalan Kolonialisme Eropa dan Jepang, mengikuti ritual-ritual adat istiadat yang masih terjaga dan dilestarikan generasi saat ini.

Tak sebatas itu. Jangan lupa pula menikmati atraksi budaya sambil  menegak sopi koli dan menyantap kuliner lokal yang beragam dan beraneka rasa. 

Flora dan fauna endemik MBD juga sangat khas dan relatif jarang ditemukan pada kabupaten-kabupaten dan kota-kota lain di Maluku.

Seluruh potensi itu masih alami, hanya butuh sedikit sentuhan modern untuk mempercantik suasana eksotis di bawah balutan sinar mentari dan cahaya rembulan yang tetap menyapa dari balik peraduannya.

Datanglah ke sini, kalian seperti berada di kutub lain. Berada di surga wisata yang tak pernah terlupakan sepanjang hidup.    
   
DEWALA PERAHU DI LOLOTUARA
   
Jejak-jejak mahakarya arsitektur peninggalan zaman prasejarah yang masih terjaga apik di Lakor, salah satunya Dewala berbentuk kapal di Desa Lolotuara.
    
Luas Dewala Perahu di Lolotuara  lebih dari 100 meter persegi dengan ketinggian berkisar 6-8 meter. Dewala ini memiliki tiga pintu di bagian Timur, Barat dan Utara. Di samping Dewala juga dibuat lubang pengintaian terhadap musuh. Banyak yang menilai konstruksi bangunan batu menggunakan ’teori gigi anjing’ dimulai dari pembangunan Dewala di Lolotuara.

Sesuai penuturan warga setempat, pembangunan Dewala di Lolotuara berawal dari kisah perantauan kakak-beradik, Lotloi dan Aliyeru, ke Pulau Luang. Entah mengapa penduduk Luang menyuruh kakak-adik ini pulang kampung dan membangun negeri.

Namun, karena ingin mencari ilmu (liramelay) Lotloi berpesan kepada Aliyeru agar ketika membangun kampung sisakan bagian khusus untuknya sehabis dirinya menjalani ’liramelay’.

Terobsesi dengan bayangan kapal yang pernah ditumpangi selama merantau, ketika pulang Lotloy membangun Dewala kapal di Lolotuara. Pembangunan dewala ini diyakini menggunakan kekuatan mistik, sehingga hanya dilakukan dalam beberapa hari saja. (RONY SAMLOY)
Pariwisata 5654827539996796350
Beranda item

# PILKADA KOTA AMBON

Indeks

# TNI-POLRI

Indeks

#PARIWISATA

# NASIONAL

Indeks

#ANEKA

Kurs Mata Uang