Ambon 451 Tahun: Di Tengah Slogan Kota Bersih, Sampah Masih Menutup Pesisir
AMBON - BERITA MALUKU. Tepat 7 September, Kota Ambon memasuki usia ke-451 tahun. Perayaan hari jadi Kota Manise tahun ini mengusung tema besar, “Ambon Bersih, Maluku Sehat, Indonesia Maju.”
Berbagai kegiatan pun digelar untuk menyemarakkan momentum tersebut. Di bawah kepemimpinan Wali Kota Ambon, Bodewin Wattimena, rangkaian perayaan diisi dengan kegiatan budaya, olahraga, hiburan hingga promosi pariwisata. Semua itu menghadirkan kegembiraan dan menunjukkan wajah Ambon yang terus bergerak maju.
Namun, di tengah kemeriahan perayaan itu, ada sisi lain Kota Ambon yang seolah luput dari perhatian.
Dari hasil pemantauan di sejumlah kawasan pesisir, persoalan sampah masih menjadi pemandangan yang sulit diabaikan. Salah satunya terlihat di pesisir Desa Laha. Tumpukan sampah plastik, kemasan bekas, botol, styrofoam hingga berbagai jenis limbah rumah tangga berserakan dan menutupi sebagian garis pantai.
Pemandangan tersebut menghadirkan pertanyaan sederhana, tetapi penting: di mana makna “Ambon Bersih” ketika pesisirnya masih dibayangi tumpukan sampah?
Laut seharusnya menjadi salah satu kekuatan utama Kota Ambon. Keindahan Teluk Ambon dan wilayah pesisir bukan hanya memiliki nilai ekologis, tetapi juga menjadi bagian penting dari potensi pariwisata kota ini. Namun, promosi pariwisata akan kehilangan makna jika persoalan kebersihan lingkungan, khususnya di kawasan pesisir, belum menjadi perhatian yang sungguh-sungguh.
Sampah yang terlihat di pesisir Laha bukan muncul begitu saja. Sebagian besar diduga merupakan sampah hasil aktivitas masyarakat yang terbawa aliran sungai dan kemudian dihempaskan arus laut ke kawasan pantai. Ketika sampah terus mengalir dari daratan menuju laut, persoalannya tidak lagi sekadar tentang kebiasaan membuang sampah sembarangan, tetapi juga tentang bagaimana sistem penanganan sampah bekerja.
Selama ini, wajah bersih Kota Ambon mungkin lebih mudah terlihat di ruas-ruas jalan utama dan pusat kota. Jalan-jalan dihiasi berbagai slogan, sementara sejumlah titik tampil rapi dan menarik bagi masyarakat maupun pengunjung.
Tetapi kebersihan sebuah kota tidak seharusnya hanya diukur dari apa yang terlihat di jalan-jalan utama.
Sebab, di balik wajah kota yang tampak bersih, pesisir justru masih menyimpan persoalan yang berbeda. Laut dan pantai seakan menjadi tempat terakhir bagi sampah yang tidak tertangani dari daratan.
Di usia ke-451 tahun, Kota Ambon tentu tidak hanya membutuhkan perayaan dan kemeriahan. Perlombaan, panggung hiburan, kegiatan budaya dan berbagai acara lainnya memang mampu menghadirkan sukacita bagi masyarakat. Namun, perayaan hari jadi juga seharusnya menjadi momentum untuk melihat kembali persoalan-persoalan yang masih menjadi pekerjaan rumah kota ini.
Kegiatan sosial dan aksi nyata membersihkan lingkungan, terutama kawasan pesisir, semestinya dapat menjadi bagian penting dari semangat perayaan. Terlebih ketika tema yang diusung secara tegas berbicara tentang “Ambon Bersih.”
Gambar pesisir yang dipenuhi sampah seharusnya menjadi kritik terbuka bagi semua pihak. Bukan hanya pemerintah, tetapi juga masyarakat yang setiap hari menghasilkan sampah dan memiliki tanggung jawab untuk tidak menjadikan sungai serta laut sebagai tempat pembuangan terakhir.
Namun, pemerintah tetap memiliki peran besar dalam memastikan persoalan ini tidak dibiarkan berulang. Dibutuhkan penanganan yang lebih nyata, berkelanjutan, dan menyentuh akar persoalan, bukan sekadar membersihkan ketika sampah telah menumpuk di pantai.
Ambon tidak akan benar-benar bersih hanya karena jalan-jalan utama terlihat rapi. Ambon akan benar-benar bersih ketika kebersihan itu juga sampai ke pesisir, sungai, kampung-kampung, dan lautnya.
Di usia ke-451 tahun, perayaan HUT Kota Ambon seharusnya bukan hanya menjadi pesta untuk merayakan perjalanan panjang sebuah kota. Lebih dari itu, momentum ini harus menjadi kesempatan untuk berkaca.
Karena di tengah berbagai perlombaan dan kegembiraan, pesisir yang dipenuhi sampah seakan menghadirkan kesedihan lain dari Kota Manise.
Ambon sedang merayakan usianya. Tetapi laut dan pesisirnya seperti sedang meminta untuk tidak lagi dilupakan.
