Kronologi Medis Dinilai Janggal, Dugaan Malpraktik RSUD Masohi Mengemuka
AMBON - BERITA MALUKU. Dugaan malpraktik medis di RSUD Masohi, Kabupaten Maluku Tengah, kembali menjadi perhatian serius DPRD Provinsi Maluku. Anggota DPRD Maluku Daerah Pemilihan Maluku Tengah, Alhidayat Wajo, menilai berulangnya keluhan masyarakat terkait pelayanan kesehatan di rumah sakit tersebut sebagai sinyal kuat perlunya evaluasi menyeluruh terhadap manajemen dan sistem pelayanan medis.
Menurut Alhidayat, laporan warga tentang dugaan kesalahan penanganan medis di RSUD Masohi bukan terjadi satu kali. Sejumlah keluhan disebut telah disampaikan masyarakat dalam berbagai kesempatan, namun belum ditangani secara tuntas.
“Keluhan masyarakat ini sudah berulang. Kalau terus terjadi, tentu tidak bisa dianggap sepele. DPRD memandang perlu mengangkat dugaan malpraktik ini agar ada pembenahan serius di internal rumah sakit,” tegas Alhidayat, Rabu (7/1).
Ia menegaskan, RSUD Masohi sebagai rumah sakit rujukan daerah memiliki tanggung jawab besar dalam menjamin keselamatan pasien dan mutu pelayanan kesehatan. Setiap dugaan pelanggaran prosedur medis, kata dia, harus ditelusuri secara profesional dan transparan.
Selain itu, Alhidayat meminta agar setiap pengaduan masyarakat ditindaklanjuti secara cepat dan bertanggung jawab. Menurutnya, lambannya respons justru memperbesar ketidakpercayaan publik terhadap layanan kesehatan pemerintah.
“Semua keluhan warga harus segera ditangani dengan baik. Ini penting agar masyarakat merasa dilayani, meskipun pada akhirnya dugaan malpraktik tersebut belum tentu terbukti,” ujarnya.
DPRD Maluku juga menyoroti kejelasan kronologi medis pasien yang dinilai tidak dicatat secara utuh. Berdasarkan informasi yang diterima, pasien sebelumnya menjalani tindakan pencabutan gigi pada 2 September. Namun, beberapa hari kemudian pasien kembali ke rumah sakit dengan keluhan pendarahan dari telinga.
“Kronologi lanjutan ini tidak dijelaskan secara lengkap dalam catatan medis. Padahal, pencatatan kronologi sangat penting untuk menjelaskan rangkaian penanganan pasien,” kata Alhidayat.
Ia menilai, terputusnya pencatatan tersebut menimbulkan pertanyaan publik dan berpotensi memperkuat kecurigaan terhadap adanya kesalahan prosedur. Karena itu, DPRD meminta manajemen RSUD Masohi memberikan penjelasan terbuka kepada masyarakat.
“Pasca pencabutan gigi, pasien kembali dengan keluhan darah keluar dari telinga, tetapi kronologi ini seolah tidak dicantumkan. Ini yang perlu dijelaskan secara transparan,” tandasnya.
DPRD Maluku memastikan akan terus memantau perkembangan kasus tersebut dan mendorong evaluasi menyeluruh agar pelayanan kesehatan di RSUD Masohi berjalan sesuai standar medis dan etika profesi.
