Warga Pulau Babar MBD Ini Mengeluh, Sapinya Ditolak Naik KM. Sabuk Nusantara | Berita Maluku Online Berita Maluku Online
Loading...

Warga Pulau Babar MBD Ini Mengeluh, Sapinya Ditolak Naik KM. Sabuk Nusantara

Puluhan kambing diangkut KM. Sabuk Nusantara
BERITA MALUKU. Kehadiran kapal perintis, KM. Sabuk Nusantara, rute Pulang-Pergi (PP) Ambon dan pulau-pulau terluar di wilayah kabupaten Maluku Barat Daya (MBD), tentunya sudah menjawab persoalan kesulitan transportasi di wilayah itu. Namun sayangnya, ada saja warga yang merasa tidak puas terhadap pelayanan moda transportasi itu.

Kepada media ini, Rabu (9/8/2017), Alex Angki, salah satu penumpang KM. Sabuk Nusantara 43 menuturkan, bahwa dirinya hendak bertolak ke Kota Ambon dengan membawa seekor sapi untuk dijual sebagai hewan kurban. Sayangnya, hewan itu ditolak untuk diangkut ke kapal.

"Sepertinya ada pilih kasih terhadap penumpang oleh nahkoda dan anak buah kapal (ABK)," jelas Angki.

Padahal menurut Angki, ada puluhan kambing diangkut di atas KM. Sabuk Nusantara 43 dari Pulau Kisar tujuan Ambon.

“Kenapa seekor sapi ini ditolak? Sedangkan ada puluhan kambing yang diangkut. Apakah tiap kambing per ekor dikasih uang Rp50 ribu lalu bisa diangkut? Apakah katong orang Tepa seng bisa bayar untuk kasih naik sapi ? Kan itu cuma satu ekor sapi saja kok ditolak. Ini kan pilih kasih namanya,” keluh Angki.

Dirinya mengatakan, sudah menanyakan masalahnya itu ke nahkoda maupun ABK, namun mereka tak mempedulikannya. Setahu Angki, biasanya hewan-hewan dibawa dengan kapal tersebut, namun kali ini kenapa dirinya tak diperbolehkan membawa seekor sapi. Padahal sapi yang dibawanya itu akan dijual untuk keperluan anaknya yang bersekolah di Kota Ambon.

“Katong orang MBD kalau ke Ambon pasti bawa barang untuk kepentingan katong pung anak kuliah, jadi kalau orang Kisar ke Ambon pasti bawa kambing dan lemon, orang Moa pasti bawa kerbau, orang Tepa pasti bawa sapi, orang Damer bawa kopra atau hasil bumi lain. Orang Kisar pung kambing bisa diterima dengan harga satu ekor kambing Rp50 ribu, masa katong orang Tepa seng bisa kasih nai sapi,” ujar Ankgi dengan nada kecewa.

Sebagai warga Pulau Babar, dirinya meminta perhatian kepada pihak terkait, baik itu pihak pemerintah maupun pihak pengelola,  terutama kepada wakil rakyat yang ada di Baileo Karang panjang Ambon untuk dapat menyikapi masalah tersebut. Sebab menurutnya, warga yang tinggal di wilayah pulau terluar itu sebagian berprofesi sebagai peternak. Ternak biasanya dijual ke Kota Ambon dan wilayah kabupaten sekitar untuk memenuhi kebutuhan hidup dan biaya sekolah anak.

Sementara, Nakoda KM Sabuk Nusantara 43, Johan yang dihubungi media ini menjelaskan, alasan dirinya menolak dimuatnya seekor sapi milik warga Tepa tersebut, karena nantinya di Pulau Teon, Nila dan Serua (TNS) ada banyak penumpang lanjutan yang akan menaiki kapal tersebut, sehingga ditakutkan melebihi kapasitas muat.

Selain itu menurut Johan, saat kapal belayar, biasanya pintu depan kapal menuju haluan dibuka, alasannya karena penumpang kapal merasa kepanasan akibat AC atau pendingin ruangan di kapal tak berfungsi.

"Diatas kapal terdapat sekitar 31 ekor kambing yang dimuat dari Pulau Kisar, dan kotorannya juga sangat bau serta mengganggu penumpang kapal di dalamnnya. Itu sebabnya kami menolak memuat seekor sapi," ungkapnya. (EKOe)
Daerah 7596297406265996476

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

# DPRD MALUKU TENGAH

Indeks

# Kota Ambon

Indeks

# TNI - POLRI

Indeks

#ANEKA

Indeks

Kurs Mata Uang