Gubernur Maluku Ajak Umat Beragama Tingkatkan Kualitas, Kerukunan dan Kedamaian | Berita Maluku Online Berita Maluku Online
Loading...

Gubernur Maluku Ajak Umat Beragama Tingkatkan Kualitas, Kerukunan dan Kedamaian

BERITA MALUKU. Pemerintah Provinsi Maluku bersama TNI-Polri melaksanakan Halal Bi Halal 1438 Hijriyah.

Acara yang bertemakan “Memaknai hakekat Idul Fitri dalam memperkuat pertalian yang sejati hidup orang basudara menuju Maluku yang aman, rukun dan sejahtera” dilaksanakan di Gedung Islamic Center, Ambon, Selasa (4/7/2017).

Hadir dalam acara tersebut, Pangdam XVI Pattimura, Mayor Jenderal TNI Doni Monardo, Kapolda Maluku, Irjen Pol Deden Juhara, Kepala Kejaksaan Tinggi Maluku, Dr. Manumpak Pane, sejumlah pimpinan SKPD dan pengawai dilingkup Pemprov Maluku, serta tokoh-tokoh agama.

Gubernur Maluku Said Assagaff dalam sambutannya memaknai pelaksanaan Halal Bi Halal untuk meningkatkan kualitas, kerukunan dan kedamaian antar umat beragama, serta antar suku bangsa di daerah ini. Dalam rangka mengembangkan Maluku sebagai Laboratorium kerukunan hidup umat beragama terbaik di Indonesia.

Menurutnya, bukan kerukunan dan kedamaian pasif, tetapi kerukunan dan kedamaian aktif sebagai mana ungkapan orang Maluku, potong di kuku rasa di daging, ale rasa beta rasa, sagu salempeng di patah dua.

“Inilah semangat kebersamaan dan persaudaraan sejati untuk belajar saling memaafkan, mempercayai, menompang, membanggakan antar umat beragama,” ujarnya.

Dikatakan, selama bulan suci Ramadhan tentu saja banyak kenangan, pengalaman spiritual yang di alami bersama, bahkan dapat dikatakan bulan suci Ramdhan merupakan momentum untuk merasakan bagaimana nikmatnya melakukan penyujian spiritual, mulai makan sahur bersama keluarga, sholat tarawih berjamaah di masjid, berbagi dan menyantuni kaum yang lemah hingga buka puasa bersama.

“Hal menarik yang kita rasakan itu tidak bisa lepaskan dari dimensi sosial, karena hampir semua ibadah yang dilaksanakan selalu terjamah,” katanya. 

Pengalaman spiritual menurutnya, tidak hanya memiliki dimensi pri ketuhanan tetapi juga dimensi pri kemanusian. Dimana semua pengalaman sipritual itu sangat sarat dengan nilai-nilai sosial dan nilai-kebersamaan. Hingga puncak pelaksanaan ibadah puasa itu semua umat islam diwajibkan menggenapkan bilangannya dengan memberikan zakat kepada golongan-golongan penerima zakat, atau orang lemah dan berkebutuhan.

Selain itu dikatakan, perayaan idul fitri dibuat dengan perayaan Halal Bi Halal mulai dari tingkat kampung sampai pada tingkat nasional, serta yang terlibat di dalamnya bukan hanya umat islam tetapi juga umat beragama lainnya, baik sebagai peserta maupun sebagai panitia.

“Sebagaimana kita sering lakukan di Maluku, karena itu tradisi buka puasa bersama dan juga Halal Bi Halal sebagai kecerdasan lokal dan keraifan lokal Islam di Indonesia,” tuturnya. 

Lanjutnya, demikian halnya di Maluku, Walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu sebagai orang basudara bukan hanya karena punya hubungan daerah, darah tetapi juga karena lahir dan dibesarkan oleh rahim (kandungan) bumi raja-raja ini. Kita makan dan minum dari rahim Maluku, dan kita berdiri tegak dan berkembang biak atas bumi Maluku, sehingga tidak ada alasan untuk kita bercerai apalagi saling menyakiti.

“Untuk itu jangan pernah putus silahturahim, mari kita bersama-sama baku kele maju dalam semangat hiti-hiti hala-hala,” cetusnya.

Dalam moment ini, dirinya juga mengingatkan kepada masyarakat Maluku untuk selalu melindungi diri, keluarga dan masyarakat. Mengingat berbagai ancaman kejahatan yang merusak moral dan menghancurkan keutuhan bangsa kita dewasa ini, antara lain narkoba, miras, kekerasan seksual, radikalisme, terorisme, paham etno riligius yang ditandai dengan sering terjadinya perkelahian antar kampung, kelompok, negeri, aksi saling menghujat, fitna (Hoax) melalui media sosial.

“Satu hal yang penting untuk katong nanaku secara bersama-sama yaitu pentingya kita cerdas dalam menggunakan internet khususnya media sosial,” jelasnya.

Lebih luas dikatakannya, media sosial bisa menyambung suilahturahim, tetapi dengan media sosial juga dapat merusak silahturahim itu sendiri, dengan internet kita belajar dan mengakses berbagai informasi serta sumber ilmu pengetahuan dengan sangat mudah tapi dengan internet juga bisa membuat kita menjadi makhluk individualistik, mekanistik, yang suka dengan cara-cara plagiasi baik dalam aktivitas di dunia pendidikan, birokrasi, parlemen hingga masuk ke ruang pribadi rumah tangga. Intinya bangsa kita nyaris kehilangan orginalitas.

Masalah berikut yang menjadi iktiar bersama, yaitu belajar agama secara instan, atau yang disebut Imam Besar Masjid Istiqla Prof. Nazarudin Umar sebagai agama internet atau media sosial.

“Itu ada Islam media sosial, kristen media sosial dan seterusnya. Karena orang belajar secara instan tanpa mau belajar melalui ustadz, guru, ulama, pendeta, pastor. Dampak negtif tanpa guru terutama bagi yang awam antara lain biasanya salah kaprah atau salah jalan yang memicu munculnya aliran sesat,” tandasnya. 

Untuk itu, dirinya mengajak melalui revolusi mental dengan amal agama, mari basudara kedepan semua budaya-budaya yang jelek disingkirkan, katong semua kalesang diri agar terjadi perubahan pola pikir dan karakter dari budaya-budaya bakalai ke budaya baku bae, budaya baku marah ke budaya baku sayang.
Pemprov 801473486923632568

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

# DPRD MALUKU TENGAH

Indeks

# Kota Ambon

Indeks

# TNI - POLRI

Indeks

#ANEKA

Indeks

Kurs Mata Uang