Cerita Pendidikan Dari Timur Indonesia ”Maluku” | Berita Maluku Online Berita Maluku Online
Loading...

Cerita Pendidikan Dari Timur Indonesia ”Maluku”

Oleh: Nur Samsi Oat, S.Pd
(Alumnus Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unpatti)

SETIAP manusia (Makhluk ber-akal) tentu membutuhkan ilmu pengetahuan dalam upaya mengetahui, mengenal serta melakukan apapun itu. Inilah yang disebut dengan pendidikan. Pendidikan adalah wahana aplikatif dan sekolah menjadi ruang terbuka bagi setiap manusia untuk beraktualisasi tentu dengan batasan-batasan etik dan norma kedisiplinan. Pendidikan inilah yang kemudian diformalkan dengan legitimasi akademik sebagai prasyarat dalam dunia kerja, menjadi pertimbangan dalam mengukur kompetensi bahkan menjadi dasar prestise dalam ruang sosial.

Pendidikan mesti menghasilkan sumber daya manusia yang organik, yang hidup, kreatif, inovatif, mengerti-memahami apa yang dilakukan. Konten prosedur-normatif yang kian digalakan membuat output pendidikan adalah pekerja yang berkompetensi sebab bekerja selain manfaat personal yang didapat ada implikasi sosial humanistik terhadap publik. Mengingat manusia yang satu adalah pelayan untuk manusia lainnya, sehingga sangat disayangkan jika pendidikan hanya sebatas gelar tanpa diimbangi kualifikasi konseptual.

Berbicara tentang pendidikan dengan melihat kondisi pada suatu wilayah seperti di timur Indonesia, termasuk Maluku, harusnya tidak secara parsial, akan tetapi mesti dilihat secara holistic. Maluku yang wilayahnya didominasi oleh entitas pulau-pulau kecil membuat semua instrument pendidikan yang saling kait-mengait baik pendidik, sekolah, kurikulum, peserta didik bahkan instrument pendukung lainnya masih sangat jauh dari harapan, akibat dari rentan jarak daerah terpencil dari pusat kota, jumlah sekolah dan tenaga pendidik yang terbatas serta tidak didukung oleh instrument pendidikan berbasis digital.

Namun, hal ini tidak menyurutkan semangat dan harapan anak-anak dari timur Indonesia, khususnya Maluku. Ada sebuah adigium dari literature yunani kuno yaitu “Setiap orang adalah guru dan setiap tempat adalah sekolah”. Adigium inilah yang menjadi semangat anak-anak timur Indonesia. Bahwa Dengan semua kendala yang ditemukan dibangku sekolah menjadikan mereka tetap bersinar dengan impian menginjakan kaki di perguruan tinggi. Sebab yang diyakini adalah sebuah perguruan tinggi mampu menciptakan insan intelek yang berguna bagi nusa dan bangsa.

Terbitnya matahari dari ufuk timur sejatinya bukan sekedar rotasi matahari tapi perwujudan akan konstruksi pendidikan yang sebenarnya dari timur Indonesia. Sebab layaknya matahari yang terbit dari ufuk timur, manusia timur telah membaca, memahami, mengetahui dan mengenali segala sesuatu jauh sebelum wilayah barat. Sehingga dalam hal kemanusiaan, timur mengetahui banyak hal tanpa perlu bergelut dengan literature tekstual, bisa dikatakan hal ini diketahui secara naluri dan ini tidak menjadi dasar pendidikan di barat.

Potensi alamiah yang dimiliki anak-anak timur Indonesia, seharusnya dirawat dan dikembangkan demi menciptakan generasi yang berpotensi sebagai aset daerah kedepan. Bahwa selain makan dan pakaian, pendidikan juga merupakan kebutuhan utama. Sehingga sangat berharap adanya perhatian dari Pemerintah daerah setempat dalam hal pemerataan kualitas serta instrument pendidikan.

Bukan saja karena pemerataan yang tidak seimbang antara pelosok dan kota, timur dan barat tetapi pendidikan adalah hak setiap anak bangsa yang harus dinikmati secara layak tanpa terkecuali. Sesuai pasal 9 (1) UU 23 Tahun 2002 bahwa “Setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya”.
Pendidikan 3286255295434506725

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Indeks

# DPRD MALUKU TENGAH

Indeks

# Kota Ambon

Indeks

# TNI - POLRI

Indeks

#ANEKA

Indeks

Kurs Mata Uang