Masyarakat Maluku Tenggara Usia Subur Lebih Senang Gunakan Implan | Berita Maluku Online Berita Maluku Online
Loading...

Masyarakat Maluku Tenggara Usia Subur Lebih Senang Gunakan Implan

BERITA MALUKU. Masyarakat Maluku Tenggara (Malra) yang kebanyakan ibu-ibu usia subur lebih senang menggunakan alat kontrasepsi KB jenis implan.

"Jadi dari sejumlah alat kontrasepsi medis operasi wanita maupun pria, ayudi, implan, suntikan, pil dan kondom, ternyata mereka lebih cenderung menggunakan implan," Kata Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Daerah (BKKBD) Malra,Thalib Renhoran di Ambon, Selasa (6/9/2016).

Mereka lebih senang menggunakan implan sebab merasa nyaman dan tenang apalagi dalam jangka waktu yang lama.

Menurut Thalib, kenapa mereka lebih suka menggunakan implan sebab lebih banyak mempunyai kegiatan di luar rumah yakni pekerjaan sampingan mencari nafkah berupa menjual ikan hasil tangkapan suami.

"Jadi setiap hari kalau suami mereka ke laut dan pulang membawa ikan hasil tangkapan, maka istri menjual tanpa berpikir yang macam-macam sebab merasa nyaman dengan menggunakan alat kontrasepsi implan," katanya.

Apalagi implan rentang waktunya tiga tahun, dibandingkan dengan alat kontrasepsi yang lain seperti suntikan harus bolak-balik Pusat Kesejahtraan Masyarakat (Puskesmas) untuk memeriksa atau pil yang setiap hari diminum.

Kalau tidak diatur dengan baik atau lupa diminum, maka saat bersetubuh akan terjadi kehamilan.

Dia mengatakan di Malra terdapat 13.338 pasangan usia subur (PUS) dari total jiwa penduduk sebanyak 148.369 orang.

Pencapaian pada 2016, berdasarkan perkiraan permintaan masyarakat (PPM) dari Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Maluku sebanyask 5.126 dari 13.338 PUS.

Realisasinya hinggga semester I (Januari-Juni) tapi reviunya baru dilaksanakan pada akhir Agustus 2016 sudah mencapai 60 persen dari 5.126 itu.

"Kami sekarang ini mempunyai beban kerja tinggal 40 persen lagi dan sangat yakin sampai akhir tahun sudah bisa 100 persen atau terpenuhi 5.126 PUS itu," ujarnya.

Walau pun ada titik-titik tertentu, lanjutnya, dimana desa atau dalam bahasa Malra yakni Ohoi masih kental dengan kehidupan keagamaan sehingga fanatik agama ini mendominasi untuk menggunakan alat kontrasepsi.

"Untuk memenuhi keinginan dalam melaksanakan tugas ini sebagai penanggungjawab di lapangan menggandeng tokoh-tokoh agama, KNPI setempat dalam melaksanakan pelayanan," ujarnya.

Jadi kalau melakukan pelayanan di desa yang warganya mayoritas beragama Muslim, maka Ustat atau Imam akan berbicara tentang pemakaian alat kontrasepsi.

Begitu juga kalau ke desa Kristen, maka Pendeta atau Pastor memberikan pemahaman dari sudut pandang agama terkait penggunaan alat kontrasepsi.
Kesehatan 6682388886443691483

Poskan Komentar

emo-but-icon

Beranda item

# PILKADA KOTA AMBON

Indeks

# TNI-POLRI

Indeks

#PARIWISATA

# NASIONAL

Indeks

#ANEKA

Kurs Mata Uang