29 September 2016, Amahai - Ihamahu Gelar "Panas Pela" Satu Darah Satu Gandong | Berita Maluku Online Berita Maluku Online
Loading...

29 September 2016, Amahai - Ihamahu Gelar "Panas Pela" Satu Darah Satu Gandong

BERITA MALUKU. Tanggal 29 September 2016 mendatang, dua negeri di Maluku Tengah, Amahai (Pulau Seram) dan Ihamahu (Pulau Saparua) menggelar Pasawari Adat "Panas Pela" untuk mengenang dan memperkuat kekerabatan hubungan sosial kemasyarakatan yang berawal sejak tahun 1899 lampau.

"Kegiatan Panas Pela untuk menghangatkan kembali satu darah, satu gandong itu akan berlangsung di negeri Amahai dan diikuti berbagai suku di Indonesia," kata Ketua PANAH (Peduli Anak Negeri Amahai) Edison Huwae dalam jumpa pers di Balirung Kementerian Pariwisata, seperti dikutip dari situs kabar7.com, Rabu (7/9/2016) kemarin.

Pasawari atau Pesta Budaya ini akan dimulai 24 September dengan berbagai acara yang sekaligus memperkaya khasanah budaya dan pesona pariwisata Indonesia.

"Pasawari Adat Panas Pela Amahai - Ihamahu. yang menonjolkan persaudaraan ini bukan saja mempertahankan dan memperkuat hubungan sosial kemasyarakatan, tapi juga melestarikan 'budaya Pela Gandong' yang hanya ada di Maluku dan satu-satunya budaya kekerabatan di dunia," papar Edison Huwae yang didampingi Kepala Pemberitaan TVRI Maluku Lucky Sopacua dan Putri Pariwisata Indonesia.

Pasawari atau perayaan Panas Pela Amahai - Ihamahu ini merupakan festival rutin dilakukan tiap 9 tahun secara bergantian antara Amahai yang terletak di Pulau Seram dan Ihamahu yang berada di Pulau Saparua.

Ketika disoal mengapa harus sembilan tahun diadakannya, Lucky Sopacua menyatakan, tidak ada perhitungan mistis, namun lebih kepada administrasi saja. Pasalnya, pernah acara ini sempat terhenti, hingga begitu dilaksanakan sudah masuk tahun kesembilan. Sehingga seterusnya acara Panas Pela Amahai –Ihamahu ini digelar setiap 9 tahun sekali.

"Nanti di antara Pulau Seram dan Pulau Saparua akan dibentangkan kain putih 'Gandong' lambang persaudaraan yang panjangnya 2000 meter dan ini sekaligus memecah rekor dunia dan juga dihadiri sejumlah tokoh-tokoh lingkungan hidup, termasuk Uli Sigar. Selain itu Panas Pela yang dipastikan akan dihadiri ribuah orang Amahai Ihamahu ini juga akan menggelar kuliner khas Maluku dan kesenian serta budaya khas Maluku lainnya," tegas Edison Huwae.

Sebagai tuan rumah berbagai persiapan sudah dilakukan di Amahai. Tiap rumah warga terbuka untuk menyambut tamu yang datang. Dapur umum juga tersedia di sejumlah lokasi untuk para tamu dengan beraneka hidangan khas Maluku guna mensukseskan Panas Pela Amahai - Ihamahu yang memiliki nilai-nilai sakral dan kekentalan budaya ini.

Edison Huwae menambahkan, guna menyukseskan Panas Pela Amahai - Ihamahu yang memiliki nilai nilai sakral dan kekentalan budaya ini, generasi muda yang terdiri dari berbagai daerah di Indonesia berdomisili di Jakarta tergabung dalam PANAH (Peduli Anak Negeri Amahai) bersama dengan Kalesang Negeri Seribu Pulau dan Koperasi Pekerja Budaya/Cakra Daya sejak berapa waktu lalu telah membentuk Panitia Panas Pela Amahai - Ihamahu tahun 2016.

Bersamaan dengan kegiatan Panas Pela, juga digelar Bakti Sosial Pengobatan Massal, Penanaman 40.000 bibit sengon karena debit air yang sudah menurun, serta Pembinaan UKM.

Bagi PANAH yang menggagas Panas Pela Amahai - Ihamahu tahun 2016 ini adalah sebuah ekspolorasi kepedulian terhadap kekerabatan Pela kedua Negeri, memperkokoh persaudaraan, mempertahakankan nilai-nilai adat dan budaya Maluku yang masih tetap terjaga, memaknainya dan mempromosikan potensi budaya pariwisata Maluku khususnya dan Indonesia pada umumnya.

Panas Pela

Panas Pela adalah suatu sistem hubungan soial kemasyarakatan yang berlaku sejak dahulu kala dalam kehidupan masyarakat Maluku. Pela ditandai dengan perjanjian antar dua negeri, desa atau kampong yang berbeda pulau dan perbedaan agama.

Dikisahkan, hubungan Pela Gandong antara Negeri Noraito Ama Patti sebutan untuk Negeri Ihamahu di Saparua dan Negeri Lou Nusa Maatita sebutan untuk Negeri Amahai di Pulau Seram ini, berawal dari pembangunan gedung Gereja di Negeri Ihamahu. Ihamahu mengalami kesulitan dalam membangun Gereja karena tidak tersedianya kayu besi di wilayahnya.

Utusan demi utusan di kirim Negeri Ihamahu untuk mencari ramuan kayu besi tersebut. Setelah lama berjalan akhirnya diterima berita bahwa di petuanan Negeri Souhoku terdapat cukup banyak pohon kayu besi.

Terbukalalah jalan bagi Negeri Ihamahu untuk mendapatkan kayu besi guna pembangunan Gereja. Kebetulan pada waktu itu "Upu Latu Souhoku" adalah Alfaris Tamaela. Dia juga dianggap bagian dari rakyat Negeri Ihamahu, karena menikah dengan Jujaro Lilipaly dari Ihamahu.

Upu Patti Ihamahu pada waktu itu, Wilhelem Lilipaly pada Jumat, 10 Januari 1890 mengirim dua orang Kepala Soa dan satu orang Tuagama untuk membawa surat kepada Upu Latu dan rakyat Souhoku meminta bantuannya.

Ternyata di petuanan Negeri Ihamahu sudah tidak terdapat lagi pohon kayu besi yang baik untuk dibuat ramuan kayu besi. Maka Upu Latu Souhoku meminta bantuan kepada Upu Patti Negeri Amahai Wilhelem Halatu.

Senin, 13 Januari 1890, utusan Ihamahu diantar Upu Latu Souhoku menghadapa Upu Patti Amahai dan diterima secara adat oleh Upu Patti Amahei dengan stafnya dengan suka cita. Setelah mengutarakan niat mereka, Upu Patti Amahai menunjuk hutan Sersa Muoni sebagai tempat bagi utusan Negeri Ihamahu untuk mengambil kayu besi.

Kamis, 10 April 1890, Wilhelem Lilipaly selaku Upu Patti Ihamahu bersama empat orang Kepala Soa dan tiga orang Tuagama dan 80 laki-laki dewasa membawa perbekalan tiba di Amahai disambut dengan suka cita.

Jumat, 11 April 1890 di Baileo Negeri Lou Nusa Maatita dilakukan musyawarah antar dua negeri. Pemerintah Negeri Amahai dengan suka cita menyambut pemerintah dan rakyat Ihamahu dengan ikatan Pela.

Minggu, 13 April 1890 dihadiri masyarakat Amahai dan utusan masyarakyat Ihamahu dikukuhkanlah ikatan Pela Lounusa Maatita - Noraito Ama Patti yakni Pela Tampa Siri atau yang dikenal dengan nama Pela Gereja.

Hubungan Pela ini menjadi lebih nyata ketika meramu kayu besi untuk ketiga kalinya pada 24 September 1896. Saat itu, orang Ihamahu yang datang meramu kayu besi disambut dengan suka cita oleh masyarakat Amahai selayaknya hidup orang ber-Pela.

Tsunami Dini Hari, 30 September

27 September 1899, Wilhelem Lilipaly dan 80 orang laki-laki dari Negeri Ihamahu berada di Amahai dan telah mengerjakan kayu besi untuk dibawa ke Ihamahu. Namun malang tidak dapat ditolak, pada 30 September 1899, pukul 01.42 WIT dini hari atau persisnya 29 September Pukul 23.42 WIB terjadi "tanah goyang" (gempa bumi, red.) besar yang memporak-porandakan negeri di kawasan tersebut serta merengut sedikitnya 60 orang Ihamahu termasuk Wilhelem Lilipaly Upu Patti Ihamahu.

Saling tuding dan menyalahkan antara orang Amahai dan Ihamahu terjadi. Akibatnya, hubungan Pela antara Amahei dan Ihamahu menjadi longgar. Pasca Johanes Lilipaly diangkat sebagai Upu Patti Ihamahu di tahun 1923, bersama rekannya Abraham Halatu Upu Latu Amahai dengan dibekali semangat orang ber-Pela, di mana hubungan yang telah diikat orang tua-tua negeri (para leluhur) itu tidak boleh dikotori tangan-tangan orang yang tidak bertanggung jawab.

Peristiwa tanah goyang, air naik turun itu kini dikenal peristiwa tsunami yang terjadi di ujung bulan September tahun 1889 di Teluk atau Semenanjung Elpa Putih itu menjadi catatan menyedihkan.

Perdebatan saling menyalahkan antara kedua negeri itu berlangsung sengit. Karenanya, untuk menormalkan hubungan kedua negeri dilakukanlah sumpah "hubungan persaudaraan" kedua negeri yang disebut "Pela Amahai - Ihamahu".

Inilah tradisi "Pela Gandong’" di Maluku, kawasan Rempah Dunia yang kini sedang diusulkan sebagai "Warisan Dunia" Budaya non factual - Tak - Benda yang dikenal "Intangible Cultutural Heritage".(ks/*)
Pariwisata 4410969240333411768

Poskan Komentar

emo-but-icon

Beranda item

# PILKADA KOTA AMBON

Indeks

# TNI-POLRI

Indeks

#PARIWISATA

# NASIONAL

Indeks

#ANEKA

Kurs Mata Uang