Delapan Desa di Ambon Ini Masih Pelihara Peninggalan Sejarah dengan Baik | Berita Maluku Online Berita Maluku Online
Loading...

Delapan Desa di Ambon Ini Masih Pelihara Peninggalan Sejarah dengan Baik

Peninggalan Sejarah di Desa Soya, Ambon
BERITA MALUKU. Beragam peninggalan sejarah, mulai dari era megalitik hingga masa penjajahan Jepang, yang berada di delapan desa di Kota Ambon hingga kini masih dipelihara dengan baik oleh masyarakat setempat.

"Tinggalan-tinggalan itu kebanyakan berada di kampung lama yang merupakan hunian awal masyarakat pada masing-masing desa," kata Arkeolog Lucas Wattimena dari Balai Arkeologi Ambon, di Ambon, Senin (29/8/2016).

Kampung lama identik dengan proses migrasi kelompok-kelompok masyarakat dari Pulau Seram, Banda, Jawa-Tuban, dan Papua. Setiap kelompok memiliki wilayah persinggahan yang ditandai dengan simbol alam, ujar Lucas.

Ia mengatakan survei arkeologi prasejarah yang dilakukannya pada Juli 2016 menemukan bahwa Desa Ema, Naku, Hukurila, Kilang, Rutong, Leahari, dan Hatalai di Kecamatan Leitimur Selatan, dan Desa Soya yang berada di Kecamatan Sirimau memiliki tinggalan sejarah dengan kebudayaan yang tinggi.

Peninggalan-peninggalan tersebut antara lain pecahan gerabah polos, keramik dengan ciri motif Eropa dan Tiongkok, tempayan-tempayan tua, peralatan musik berupa gong, peralatan perang dengan ciri khas masa kerajaan kuno, dan steling-steling yang menjadi penanda tempat pertahanan tentara Jepang.

Selain itu, terdapat pula peninggalan sejarah ciri zaman megalitik berupa menhir (batu panjang) dan dolmen (meja batu) yang disebut dengan batu teong oleh masyarakat setempat. Peninggalan itu menjadi penanda situs lokasi kampung lama dan bukti pernah ada aktivitas kelompok masyarakat tertentu.

Tiap batu teong diberi nama sesuai dengan kelompok-kelompok migrasi masyarakat.

"Bukti-bukti sejarah masih terpelihara dengan baik, misalnya peninggalan Kerajaan Majapahit di Desa Ema, berupa tombak prajurit, tempat sirih pinang, dan air bekas pemandian putri Majapahit. Kami masih belum tahu seperti apa hubungan dua wilayah ini pada masa lampau, yang pasti tidak ada bukti invasi Majapahit di Ema," kata Lukas.

Berada di dataran yang lebih tinggi dari kawasan hunian yang sekarang, menurut Lukas, posisi kampung-kampung lama di Kecamatan Leitimur Selatan dan Sirimau sangat strategis dari segi sistem pertahanan dan keamanan, terutama untuk mengontrol kelompok-kelompok lain yang datang.

Secara geografis, Kecamatan Sirimau berbatasan dengan Teluk Ambon di sebelah utara, sebelah selatan dengan Desa Hatalai dan Ema (Kecamatan Leitimur Selatan), sebelah timur dengan Desa Halong (Kecamatan Baguala), dan sebelah barat berbatasan dengan Kelurahan Urimessing dan Silale (Kecamatan Nusaniwe).

Luas Kecamatan Leitimur Selatan adalah 50,05 kilometer persegi, sedangkan Kecamatan Sirimau 86,81 kilometer persegi, Desa Soya sendiri seluas 59,65 kilometer persegi.

"Sangat berpotensi sebagai kawasan pariwisata megalitik. Karena itu, pemerintah daerah harus segera menginvetarisasi peninggalan sejarah yang ada agar ada upaya untuk dijadikan cagar budaya. Masyarakat di sana berpindah ke kampung yang baru bukan karena kebijakan pasifikasi pemerintah Hindia-Belanda seperti yang umumnya terjadi di wilayah Maluku lainnya," ucapnya.
Kebudayaan 2962408956208400222

Poskan Komentar

emo-but-icon

Beranda item

# PILKADA KOTA AMBON

Indeks

# TNI-POLRI

Indeks

#PARIWISATA

# NASIONAL

Indeks

#ANEKA

Kurs Mata Uang