Cegah Kematian Ibu Hamil, Dinkes Malteng Bangun Rumah Tunggu | Berita Maluku Online Berita Maluku Online
Loading...

Cegah Kematian Ibu Hamil, Dinkes Malteng Bangun Rumah Tunggu

BERITA MALUKU. Kebijakan Dinas Kesehatan (Dinkes) membangun rumah tunggu bagi ibu melahirkan perlu ditingkatkan dan dikembangkan di seluruh wilayah Kabupaten Maluku Tengah (Malteng). Hal ini dimaksudkan guna meminimalisir tingginya angka kematian ibu dan anak.

Diakui aksesibilitas sebagian wilayah di Kabupaten Maluku Tengah masih menjadi kendala bagi ibu dan anak untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang memadai.

Kerap menjadi salah satu faktor tingginya angka kematian ibu dan anak terutama bagi para ibu di wilayah yang minim tenaga kesehatan dan saran prasarana. Karena itu, rumah tunggu merupakan wadah alternatif upaya penyelamatan.

Di sisi lain, rumah tunggu hasil inisiasi para bidan di Dinkes Maluku Tengah inipun bagian dari upaya melestarikan kearifan lokal seperti Badati dan Ma’anu.

“Wilayah kepulauan dengan akses yang masih minim saya kira tepat bangun rumah tunggu. Ini sangat membantu menyelamatkan ibu dan anak di Malteng,” kata Kepala Kesehatan Ibu, Anak, Usia Lanjut Dinas Kesehatan Malteng, Hapsa Salampessy, Jumat (15/1/2016).

Diakuinya, di Malteng baru terdapat satu rumah tunggu yakni di kecamatan Tehoru namun perlu dibangun beberapa rumah tunggu di sejumlah wilayah diantaranya Banda. Misalnya bagi warga dari pulau Run, pulau Hatta dan sekitarnya, demikian pula Seram Utara di Wahai, Leihitu di Hila dan Saparua.

Salampessy mengemukakan, rumah tunggu yang ada di Tehoru mulai berfungsi sejak tahun 2014 dan sudah dimanfaatkan warga sekitar, yakni para ibu dari desa-desa seperti Piliana, Yaputih, Hattu dan desa lainnya, dimana menjelang proses melahirkan atau partus rumah tersebut dijadikan tempat tinggal sementara hingga selesai partus.

“Rumah berada di lokasi Puskesmas sehingga para ibu mudah kontrol. Dari tahun 2013 berjumlah 14 orang, 2014 sembilan orang dan 2015 berjumlah lima orang,” katanya.

Faktor penyebab tingginya angka kematian ibu dan anak, lanjutnya, selain minimnya akses juga kebiasaan masyarakat dalam membuat keputusan.

“Ibu yang butuh pertolongan saat melahirkan dan akan dirujuk ke rumah sakit atau puskesmas biasanya ada banyak keputusan pihak keluarga sementara ibu itu butuh penanganan secepatnya. Nah, ini juga salah satu factor kematian ibu dan anak,” urai Salampessy.

Hanince Walalayo, salah satu warga desa Hattu mengaku senang adanya rumah tunggu itu.

“Bagus semua fasilitas tersedia hanya memang soal makanan dari keluarga yang tanggulangi,” akuinya saat dihubungi via telepon.

Perempuan dua anak ini mengatakan, dirinya memboyong anak pertama dan suami tinggal selama empat hari di rumah tunggu setempat.

“Kita empat hari hingga selesai melahirkan dan kembali ke kampong, bagi saya rumah tunggu sangat bagus dan bermanfaat bagi kita di desa-desa dan juga ada kehidupan kekeluargaan dimana biasanya saudara yang lintas mampir jenguk kita,” demikian Hanince. (N/e)
Kesehatan 5299485658969422271

Poskan Komentar

  1. Semoga ada solusi terbaik dalam hal ini,
    karena kalau seperti ini terus menjadi kekhawatiran bagi masyarakat itu sendiri, salam sejahtera

    BalasHapus

emo-but-icon

Beranda item

# PILKADA KOTA AMBON

Indeks

# TNI-POLRI

Indeks

#PARIWISATA

# NASIONAL

Indeks

#ANEKA

Kurs Mata Uang