70Th Kemerdekaan RI, Maluku yang Punya 25 Blok Migas Harus Bebas dari Kemiskinan | Berita Maluku Online Berita Maluku Online
Loading...

70Th Kemerdekaan RI, Maluku yang Punya 25 Blok Migas Harus Bebas dari Kemiskinan

BERITA MALUKU. “Rakyat Maluku berharap, peringatan 70 tahun Kemerdekaan RI, Maluku yang memiliki 25 blok migas dari kandungan laut dalamnya bisa bebas dari kemiskinan. Selain itu mampu mengubah wajah Maluku menjadi daerah yang maju dan sejahtera,” demikian kata Direktur Archipelago Solidarity (Arso) Foundation, Engelina Pattiasina, dalam keterangan pers di Jakarta, seperti dikutip dari beritasatu.com, Senin (10/8/2015).

Menurutnya, Provinsi Maluku kini menjadi perhatian dunia, seperti dulu pada masa penjajahan Kolonial. Jika dahulu dicari karena kekayaan rempah-rempahnya, kini Maluku dilirik karena potensi kekayaan minyak dan gas (migas) yang sangat luar biasa.

"Maluku kini memiliki 25 blok migas, 15 di antaranya sudah dikelola investor asing dan sisanya 10, masih menunggu investor untuk digarap. Dengan potensi migas di 25 blok itu, Maluku seharusnya bisa merdeka dari kemiskinan," kata Pattiasina.

Sebab menurut Biro Pusat Statistik (BPS) Maluku, provinsi berpenduduk 1,6 juta orang ini, 18,84 persen atau sekitar 307.000 jiwa adalah penduduk miskin dan menempati urutan keempat setelah Papua, Papua Barat, dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Hadir dalam acara ini para tokoh Maluku yang memahami betul soal maritim dan kekayaan migas Maluku yaitu praktisi Migas Boetje Balthazar, Ketua Bidang Polkam Forum Perjuangan Kebangsaan Maluku (FPKM) Amir Hamzah, dan mantan anggota Dewan Maritim Indonesia Boetje JP Pitna.

Sebelumnya para tokoh Maluku juga menuntut agar diberikan otonomi khusus kelautan bagi Maluku.

Engelina mengingatkan bahwa UUD 1945 telah dengan jelas mengamanatkan bahwa rakyat berhak menikmati kekayaan dari daerah yang dihasilkannya.

“Maluku dengan potensi kekayaan Migas, ikan dan sebagainya, seharusnya bisa merasakan dan sejahtera dengan kekayaan alamnya, tidak miskin seperti saat ini. Karena itu kami juga menuntut otonomi khusus kelautan dengan kewenangan mengelola potensi laut karena provinsi ini 90 persen lebih adalah laut,” kata Engelina.

Para tokoh Maluku ini memperlihatkan peta dan data kandungan migas yang dimiliki Maluku yakni 25 blok migas. Salah satu yang potensinya sangat besar adalah Blok Masela yang terletak di wilayah Maluku Tenggara.

“Di Blok Masela ini ada 10 sumur, jika semuanya berproduksi satu-dua tahun lagi, akan menghasilkan 7.5 juta kubik fit gas per tahun. Belum lagi kandungan minyaknya. Jadi sangat luar biasa,” jalas praktisi Migas Balthazar.

Sementara Ketua Bidang Polkam FPKM Amir Hamzah menekankan agar otonomi khusus kelautan diberikan dengan kewenangan asimetris yakni kewenangan bagi Maluku untuk mengelola kekayaan lautnya.

"Sebab tanpa kewenangan pengelolaan laut, Maluku akan tetap miskin mengingat wilayah daratannya kurang dari 10 persen," tandas Amir Hamzah.

Adapun 15 blok migas Maluku yang kini sudah dikelola investor asing adalah Blok Amborip VI, Blok Arafura Sea, Blok Aru Trough, Blok Aru, Blok West Aru I, Blok West Aru II, Blok South East Seram, Blok Kuwama, Blok East Bula, Blok Seram Kode 1/05, Blok Seram (non Bula), Blok Bula, Blok Masela, Blok Babar Selaru, dan Blok Offshore Pulau Moa Selatan.

Sedangkan 10 blok yang kini sedang ditawarkan kepada investor asing adalah Blok South Aru, Blok North Masela, Blok West Abadi, Blok Tatihu, Blok Arafura Sea II, Blok Aru Trouhg II, Blok South Aru, Blok Yamdena, Blok Sermata, Blok South East Palung Aru. (bm 01)
Headline 7990310945514313927

Poskan Komentar

  1. Masalah kemiskinan (pengentasan) kemiskinan bukan hanya tentang masalah ekonomi (yang penyelesaiannya lewat pendekatan ekonomi). Demikian halnya dengan kenyataan tentang suatu kemiskinan, khususnya di Maluku, juga bukan semata tentang masalah ekonomi. Tapi juga karena faktor-faktor sebagai berikut : 1. Tingkat pendidikan yang rendah, 2. Produktivitas tenaga kerja rendah, 3. Tingkat upah yang rendah, 4. Distribusi pendapatan yang timpang, 5. kesempatan kerja yang kurang, 6. Kualitas pemanfaatan sumberdaya alam masih rendah, 7. Penggunaan teknologi masih kurang, 8. Etos kerja dan motivasi pekerja yang rendah, 9. Kultur/budaya (tradisi), 10. Politik yang belum stabil.

    Pengentasan kemiskinan sudah tidak lagi tepat didekati lewat pendekatan ekonomi semata tetapi perlu didekati lewat pendekatan baru yaitu PENDEKATAN KESEJAHTERAAN. Pendekatan kesejahteraan menyangkut masalah ekonomi dan non ekonomi dan tidak lagi pendekatan yang hanya pada orang dan kelompok tetapi pendekatan lewat kajian wilayah (sesuai karakteristik setiap wilayah) yang di dalamnya menyangkut kendala dan potensi manusia atau masyarakat, budaya, modal dan teknologi dengan memperhatikan pula kedekatan antar aparat pemerintah dan masyarakat lewat kemitraan dan dialog untuk tercapainya suatu konsensus serta proses transformasi informasi yang lebih transparan. Jadi tidak serta merta dan tidak akan terwujud harapan Maluku harus bebas dari kemiskinan" dengan hanya fokus pada keberadaan/pengembangan "25 Blok Migas".

    Keberadaan dan pengengembangan potensi 25 Blok Migas yang ada di Maluku perlu di dukung sambil memperhatikan dan mengawal setiap aktifitas yang berhubungan dengan semua aspek pemanfaatan blok migas di maksud, terutama faktor lingkungkan hidup - kehidupan ekosistim (yang adalah salah satu potensi alam Maluku) yang berada di sekitar wilayah 25 Blok Migas dan tujuan utama pemanfaatannya, sambil berbarengan secara paralel melakukan semua usaha pengentasan kemiskinan melalui semua aspek non ekonomi.

    Librano Louis Apituley (Nano)

    BalasHapus
  2. (koreksi alinea terakhir)

    *Keberadaan dan pengembangan potensi 25 Blok Migas yang ada di Maluku...

    BalasHapus

emo-but-icon

Beranda item

# PILKADA KOTA AMBON

Indeks

# TNI-POLRI

Indeks

#PARIWISATA

# NASIONAL

Indeks

#ANEKA

Kurs Mata Uang