Terpilih Pimpin Sinode GPM, Ini Kesan Elifas Maspaitella | Berita Maluku Online | Berita Terkini Dari Maluku Berita Maluku Online
Loading...

Terpilih Pimpin Sinode GPM, Ini Kesan Elifas Maspaitella


AMBON - BERITA MALUKU.
Setelah terpilih sebagai Ketua Sinode Gereja Protestan Maluku (GPM), Pdt. Elifas Maspaitella mendapat dukungan maupun harapan, baik dalam lingkup MPH Sinode, maupun jemaat serta masyarakat luas, di masa kepemimpinnya 2021-2025.


Kepada awak media dikonfirmasi via-telepone, Kamis (18/02/2021), Ketua Sinode terpilih Pdt. Elifas Maspaitella, terlebih dahulu mengucap syukur untuk Tuhan, karena semua proses ini sudah bisa berlangsung sampai di tahap ini.


"Karena itu saya berterima kasih untuk seluruh pelayan dan jemaat yang selama ini menopang GPM dalam pergumulan," ujarnya.


Di masa kepemimpinannya lima tahun kedepan, jelasnya akan berjalan sesuai keputusan Sinode pada program tahunan 2021 sesuai pola induk pelayanan dan rencana induk pengembangan pelayanan GPM.


Dalam kaitan itu, GPM tetap mengembangkan pola pelayanan dalam semangat pastoralia sebab apapun juga masalah bergereja mesti dapat diselesaikan dalam pendekatan pastoralistik.


Ia menyadari ada banyak problem dalam hidup bergereja tetapi mesti dapat menyelesaikan dengan meningkatkan komunikasi pastoralia.


Hal lainnya, karakter pelayanan Gereja, karakter umat, kata Mantan Sekretaris Umum Sinode GPM Maluku ini, akan tetap berusaha ditingkatkan dengan menumbuhkan kesadaran bergereja di seluruh pelayanan dan warga Gereja.


Hal ini ini semata-mata untuk menggerakan partisipasi dan dukungan seluruh jemaat untuk melaksanakan amanat Tuhan ditengah dunia, baik di Sinode, Klasis, maupun Jemaat.


Tak hanya itu, tuturnya GPM juga akan tetap terpanggil merawat keutuhan bangsa dengan menjadikan keragaman, potensi kekuatan untuk merajut persaudaraan, semangat Gereja orang basudara, yang akan tetap menjadi bagian dari Gerak langkah GPM ditengah-tengah bangsa.


"Kita juga dapat menjamin keadilan. Karena itu kita akan berusaha untuk membangun koinonia yang lebih tranformatis baik Gereja sendiri maupun diantara umat beragama, dan stakeholders yang lain termasuk pemerintah," ucapnya.


Apalagi sebagai Gereja di daerah kepulauan di Maluku dan Maluku Utara, ungkapnya ada banyak tantangan sosial bermasyarakat yang juga harus dijawab oleh Gereja.


Atau disisi lain Gereja dapat membantu seluruh masyarakat menemukan jawaban atas masalah sosial yang dihadapi dalam konteks kepulauan.


Begitu juga kerjasama Oikumene dalam Gereja tetap dirawat dan membingkai sesuai tujuan keesaan Gereja-Gereja di Indonesia, yaitu mewujudkan Gereja Kristen Indonesia yang lebih terbuka kepada persahabatan seluruh umat beragama dan warga gereja.


Kehidupan beragama, lanjutnya tetap dibangun dengan fondasi kultural sebagai orang Maluku dan Maluku Utara, sebab nilai-nilai ini adalah nilai teologis yang harus diterjemahkan dalam membangun tatanan hidup keagamaan di Indonesia bahkan di dunia.


Bahkan GPM sudah saatnya mengaungkan seluruh pranata-pranata teologi, pranata-pranata sosial lokal yang menjadi nilai universal untuk merajut jalinan keagamaan di seluruh Dunia.


"Saya kira itu panggilan GPM untuk mewartakan misi damai sejahtera Allah di Indonesia dan seluruh Dunia sesuai visi misi kita," cetusnya.


Di masa kepemimpinannya dirinya berharap, seluruh warga jemaat GPM tetap membangun hidup keluarga dan rumah tangga mereka sebagai keluarga dan rumah tangga berkualitas, beriman.


"Ditumbuhkanlah pembinaan keluarga, karena kekuatan Gereja kita ada pada keluarga yang utuh, harmonis. Ada pada anak-anak kita yang sebenarnya harus mendapat perhatian, pelayanan yang lebih baik," jelasnya.


Karena itu, pendidikan anak perlu ditingkatkab sebab kualitas pendidikan mereka ada jaminan bagi masa depan masyarakat, bangsa.


Ia menaruh harapan ditengah situasi pandemi semua orang fokus pada pendidikan anak dalam situasi online, karena mereka harus beradaptasi dengan pola yang baru.


Gereja juga harus dapat menjamin masa depan anak-anak.


Jemaat GPM jiga diharapkan, tidak hanya bersekutu di dalam jemaat, tetapi juga membangun releasi semua umat bearagama lain, untuk merawat kehidupan bersama ditengah bangsa.


"Pada semua pelayanan kita berdoa, agar tugas yang dipercayakan ke kita di jenjang masing-masing dapat dilakukan dengan takut Tuhan, selalu mohon hikmat dan pimpinan roh kudus, sehingga mampu melaksanakan tanggungjawab ini secara bersama-sama," cetusnya.


Lebih lanjut dikatakan, hal yang perlu diperhatilan, yaitu pandemi Covid-19. Terkait hal ini, GPM sudah melakukan banyak langkah edukatif dalam situasi Covid-19 sejak 22 Maret ketika Covid-19 melanda Maluku dan Maluku Utara.


Proses edukasi berlangsung efektif baik di jemaat di kategorikan zona merah, maupun hijau, semuanya berjalan bersama.


Hal ini menunjukan kesadaran jemaat tentang bencana non alam ini membuat kita terikat menjadi satu Gereja. 


"Di sidang Sinode ini kita sudah menghasilkan keputusan Gereja mengenai pola pelayanan GPM di dalam penanggulangan Covid-19, dan itu akan dilakukan sampai 2023 atau bahkan 2024. Artinya GPM sungguh-sungguh berusaha untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Itu sebabnya sidang sinode ini dilaksanakan dengan mengikuti protokol kesehatan, mulai peserta di Rapid Antigen," tuturnya.


Bukan hanya itu, kata Elifas dalam peraturan tata tertib, ada peserta yang terkonfirmasi positif, dan harus dikarantina, mereka juga terlibat memilih dari pusat karantina, dan suara mereka terhitung dalam proses pemilihan ini, kita memanfaatkan media online untuk melibatkan mereka dalam pemilihan ini.


"Jadi disitu GPM telah menunjukan bagaimana menata pelayanan dan berkomitmen sesungguhnya untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19," tegasnya.


Menindaklanjuti hal itu, program pemberdayaan ekonomi ditengah pandemi, sudah dilakukan sejak 2020 lalu lewat pesan gembala menganjurkan seluruh jemaat juga mencegah dan menangulangi dampaknya, bukan hanya sosial, tapi juga elonomi.


"Di jemaat-jemaat sudah memulai mengerjaka kebun-kebun mereka karena kita berusaha mengatasi krisis ini dengan menghidupkan kekuatan lokal pada pangan,"bebernya.


Pihaknya juga akan membentuk jaringan ekonomi lebih terbuka, dengan menjalin relasi diantara pusat produksi dan pusat pasar.


"Di dalam program 2021 ini juga menguat dan akan menjadi perhatian MPH Sinode sebagai bagian solusi mencegah terjadinya krisis ekonomi dalam situasi pandemi ini. Tetapi kita berdoa supaya ini semua bisa berlalu," tukasnya.


Ditanya terkait persoalan di Klasis Ambon Timur, menurutnya itu merupakan keputusan Gereja, karena itu biar Gereja menyelesaikan masalah sesuai keputusannya itu.


"Saya kira Gereja akan tetap menyelesaikannya," tutupnya.

Aneka 347210090993166536
Beranda item

# Kota Ambon

Indeks

# TNI - POLRI

Indeks