Ketua MPH Sinode: Pemkot Ambon Dinilai Tidak Serius Tangani Covid-19, Sekedar Wacana | Berita Maluku Online | Berita Terkini Dari Maluku Berita Maluku Online
Loading...

Ketua MPH Sinode: Pemkot Ambon Dinilai Tidak Serius Tangani Covid-19, Sekedar Wacana

AMBON – BERITA MALUKU. Pemerintah Kota Ambon dinilai tidak serius dalam penanganan dan pencegahan Covid-19. Hal ini terlihat dari tingkat penyebaran Covid-19 di masyarakat yang semakin tidak terkendali.

“Tadi saya usul juga kepada pak Kabimda, sebaiknya ini satu saja gugus tugas, supaya perintahnya lebih jelas. Kalau tidak bisa lagi, tentara dan polisi saja yang ambil alih. Karena buktinya kita sudah kerja maksimal tapi tingkat penularannya terus naik, berarti kita tidak bekerja. Bagi saya Pemkot Ambon tidak serius, cuma sekedar wacana, menyelesaikan masalah ini bukan wacana,” ujar Ketua MPH Sinode GPM, Pdt. A. J. S Werinussa, kepada awak media di kantor Gubernur, usai mengikuti pertemuan menindaklanjuti keputusan Menteri Kesehatan terkait penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSSB) di wilayah kota Ambon, Sabtu (13/06).

Menurutnya, selama ini tokoh agama sudah bekerja maksimal membantu pemerintah dalam mengatasi penyebaran Covid-19. Namun kenyataanya masih ada ruang publik menjadi titik penyebaran, dan kewenangannya ada di pemerintah untuk mengendalikan itu.

“Kalau dilihat rumah-rumah ibadah tidak menjadi titik penyebaran, baik itu gereja, mesjid dan lainnya, yang ada hanya di ruang publik, ini yang harus dikendalikan oleh pemerintah, karena kewenangannya ada di mereka,” ucapnya.

Oleh karena itu, dalam penangananya kata Werinussa, pemerintah kota Ambon harus punya metode yang jelas dalam penanganan Covid-19, bukan regulasi.

“Belum ada metode dalam penanganan covid-19. Nama terus diganti-ganti, saat ini PKM, setelah itu apa lagi, tapi tingkat penularannya tetap naik. Masa 400 orang terkonfirmasi itu saja tidak bisa kita atur dari satu daratan. Kemudian silahkan saja buat PSBB atau setan apa namanya. Tapi yang penting masyarakat ketahanan ekonominya terjaga, tapi kalau mereka lapar mereka bisa ribut. Itu yang tadi saya sampaikan dengan nada yang keras, karena kami sudah stres bersama rakyat,” tandasnya. 

Selain itu dikatakan, salah satu ruang publik yang menjadi lokasi penularan adalah pasar, namun kenyataannya belum ada konsep dari pemerintah kota Ambon dalam mengurai kerumunan masyarakat.

Ia mengakui sudah menyampaikan usulan beberapa kali ke pemkot Ambon dalam penanganan Covid-19 nanti tidak ditanggapi, terutama di area publik, dalam hal ini pasar, sehingga tidak menciptakan kerumunan, yang berdampak pada tinggi penularan virus bagi masyarakat.

Dicontohknnya, dengan dibuatnya beberapa titik lokasi pasar, misalnya AY. Patty di tutup dan dijadikan pasar, Seperti di Salatiga. Konsep ini yang perlu dilakukan dalam mengurai kerumunan sehingga aktivitas virus tidak tertular.

“Anda lihat sendiri, ketika diumumkan tiga orang di pasar Mardika tertular, ini merupakan kebodohan, sebab kalau diumumkan begitu orang  tidak datang lagi ke pasar, lalu orang di pasar makan apa?, caranya tidak begitu. Urai pasar menjadi beberapa titik, supaya rakyat bisa hidup. Begitu juga kita lihat di PKM, jam aktivitas di persingkat sampai jam 4, kalau jam di perpanjang maka orang tidak terburu-buru, karena dalam pelaksanaannya harus dibuat konsep, sehingga semua teratur dengan baik,” pungkasnya.
Covid - 19 7901884483847107077
Beranda item

# Kota Ambon

Indeks

# TNI - POLRI

Indeks