Sosialisasi Tanggap Bencana di Haruku, BMKG Tegaskan Informasi 26 Desember Akan Terjadi Tsunami HOAX | Berita Maluku Online Berita Maluku Online
Loading...

Sosialisasi Tanggap Bencana di Haruku, BMKG Tegaskan Informasi 26 Desember Akan Terjadi Tsunami HOAX

AMBON - BERITA MALUKU. Pasca Gempa 6,5 Magnitudo pada tanggal 26 Otktober 2019 lalu, sampai saat ini kondisi Gempa di Maluku mulai kembali normal.

Walaupun demikian, masih ada saja informasi HOAX, bahwa akan terjadi Tsunami pada tanggal 26 Desember 2019 mendatang, yang disebarkan oleh pihak-pihak tertentu untuk membuat masyarakat menjadi takut, terkhususnya masyarakat di Desa Haruku-Sameth, Kecamatan Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah.

Menanggapi informasi tersebut, dalam sosiliasi tanggap bencana, usai ibadah minggu adventus ke-IV kemarin, perwakilan BMKG, Teddy meminta masyarakat untuk tidak terpancing dengan isu-isu HOAX yang dimainkan oleh oknum-oknum tertentu yang ingin membuat masyarakat tetap dalam kondisi ketakutan.

"Masyarakat jangan terpancing dengan isu-isu itu yang jelas tidak bertanggungjawab dan tidak mempunyai bukti-bukti yang kuat yang bisa membenarkan itu," ucapnya.

Ia mengakui, gempa susulan pasca Gempa 26 Oktober lalu, sudah mencapai 2.786 kali, gempa yang dirasakan 306 kali, tetapi kalau dilihat dari grafik menunjukan sudah menuju ke kondisi normal.

"Kami menghimbau kepada bapak/ibu untuk tetap tenang, jangan panik, karena ini adalah masa-masa orientasi menuju kestabilan. Apabila rumah bapak/ibu yang tidak mengalami kerusakan signifikan, silahkan bisa kembali ke tempat masing-masing, tetapi jika ada yang masih mengalami kerusakan, atau retak-retak akibat gempa tolong dihindari sementara ini," pintanya.

Sementara itu, perwakilan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Ambon, Marsha Rubrek, mengutarakan, gempa merupakan peristiwa alam yang biasa. Pada terjadi Gempa, akan disertai dengan gelombang utama, disusul goncangan.

"Kita ini daerah gempa, kenapa gempa terjadi?, kita punya bumi ini seperti telur rebus, yang kuning itu akang punya intinya, yang putih itu akang pung selaput, lalu kerak bumi yang tipis itu kita berada diatasnya, di kerak bumi yang tipis itu ada lapisan-lapisan namun lapisannya tidak beraturan, ada yang besar dan kecil. Kemudian lapisan-lapisan itu mencari tempat untuk duduk, karena mereka mencari tampat yang stabil, makanya terjadi Gempa, dan jika tidak terjadi Gempa maka suhu bumi juga tidak akan bergerak lagi," tuturnya.

Dalam sosialisasi, Rubrek juga menjelaskan, terkait amblasnya tanah di Sila, Nusalaut, menurutnya hal tersebut bukan terjadi karena gempa, tetapi ulah manusia, dengan merusak lingkungan sekitar.

"Kasus di Sila itu sebetulnya bukan karena gempa, kita kan pulau karang, namanya karang itu ada rongga-rongga, tapi sekarang ini karena ulah manusia mereka sudah menebang hutan mangrove yang semestinya menghalangi masuknya air laut, jadi sekarang tidak ada penghalang lagi, air laut masuk ke rongga-rongga, membuat karang menjadi terkikis dan membuat tanah amblas. Mangrove juga memiliki bermanfaat, jika terjadi tsunami, dimana daya airnya menjadi kurang karena sudah terhalangi mangrove, seperti yang terjadi di pulau Nias, dan itu memberikan waktu kepada masyarakat untuk mengungsi," ulasnya.

Lebih lanjut dikatakan, amblasnya tanah di Sila, juga tidak akan membuat pulau Nusalaut menjadi tenggelam.

"Kebetulan kita di LIPI juga bagian konservasi, intinya kalau di Maluku itu sesarnya sesar naik, buktinya pulau-pulau ini terdapat karang di gunung, yang semakin naik, itu berarti kita semakin naik bukan turun, jadi jangan pikir kita tenggelam, tetapi kita tambah naik. semakin sesar naik, kita semakin naik," ucapnya.                         

Plt Kasie Pencegahan, BPBD Maluku, Freta Julien Kayadoe, mengatakan, fenomena gempa bumi yang terjadi bukan hal yang pertama, namun sudah terjadi berulang kali, seperti yang dialami pada 16-17 Oktober 1671, yang terjadi selama 6 bulan, dimana tanah tidak pernah berhenti bergoyang.

"Jadi kalau ada gempa bumi kita bersyukur, karena sebagai tanda bahwa bumi itu tidak mati. Jadi tidak perlu takut gempa bumi, itu adalah fenomena biasa, kita tetap bersyukur mungkin ini adalah cara Tuhan mengasihi kita. Bukan saja seindah siang disinari terang cara tuhan mengasihiku, tapi dengan goncangan Gempa bumi adalah cara tuhan mengasihi kita semua, mari kita memasuki Natal dengan penuh sukacita," cetusnya.

Menindaklanjuti informasi 26 Desember akan terjadi Tsunami, dirinya meminta agar masyarakat untuk tiadk mempercayai informasi tersebut (HOX).

"Kalau ada apa-apa jangan mendengar dari media sosial, yang belum tentu itu benar, tetapi melalui media sosial resmi dari BMKG, BNPB, BPBD maupun LIPI," ujarnya.

Untuk pelatihan Gempa, dirinya dalam hal ini BPBD Maluku membuka diri bersedia untuk mengadakan pelatihan dimaksud.

"Kami bersedia datang kembali asalkan ada surat resmi dari Jemaat maupun negeri, untuk membuat pelatihan ini," ucapnya. 

Lebih lanjut dikatakan, untuk sesmograf yang sudah dipasang di di kantor negeri Haruku, akan dianalisis lebih lanjut oleh ahli-ahli berkompeten dari Institusi Teknologi Bandung

"Karena seismograf hanya merekam data dan perlu dianalisis, dan realesenya akan disampaikan secara resmi di tahun depan, kalau tidak salah minggu ketiga atau minggu keempat bulan Januari 2020," ungkapnya. 

Sementara itu, J. D. Haurissa, mengatakan, dengan adanya sosialisasi yang dilakukan BPBD Maluku, LIPI dan BMKG, membuat masyarakat paham akan situasi saat ini.

"Belakangan ini informasi membuat anggota jemaat menjadi takut, jadi dengan ada penjelasan dari BMKG, LIPI dan BPBD kita bersyukur, masyarakat bisa paham, bahwa informasi yang disampaikan hoax. dab masyarakaty bisa turun, untuk benahi rumah mereka mempersiapkan diri merayakan Natal & Tahun Baru," ajaknya.
Bencana Alam 6875638216864507345
Beranda item

# Kota Ambon

Indeks

# TNI - POLRI

Indeks

#ANEKA

Indeks

Kurs Mata Uang