Warga Bati SBT Demonstrasi Tolak Disebut Manusia Purba | Berita Maluku Online Berita Maluku Online
Loading...

Warga Bati SBT Demonstrasi Tolak Disebut Manusia Purba

BERITA MALUKU. Sekitar seribuan warga Bati, Kabupaten Seram Bagian Timur, melakukan aksi demonstrasi di depan kantor Mapolda Maluku menolak pemberitaan salah satu media elektronik yang menyebutkan mereka adalah manusia purba atau campuran kelelawar dan kera.

"Kami adalah masyarakat adat pemeluk Islam yang religius dan hidup bersosialisasi dengan berbagai suku lainya, bukannya sebagai suku yang diberitakan gemar memangsa bayi dan anak kecil," kata Syafrudin Rumuar di Ambon, Rabu (25/10/2017).

Seribuan warga asal Kabupaten SBT yang tergabung dalam Ikatan Anak Esuriun Kiandarat ini mendatangi Mapolda Maluku untuk memprotes keras acara On The Spot yang ditayangkan sebuah media elektronik pekan lalu yang membahas masyarakat adat Bati di Pulau Seram Bagian Timur.

Mereka mendesak Kapolda Maluku Irjen Pol Deden Juhara dan jajarannaya segera mengusut para pihak yang menjadi narasumber dalam tayangan acara tersebut.

"Tayangan acara tersebut juga telah memancing kemarahan warga Bati yang disebut sebagai perwujudan manusia kelelawar dan kera berekor panjang serta runcing," teriak orator lainnya, Rais Rumadar.

Menurut demonstran, kalau orang Bati bisa terbang dari satu tempat ke tempat lain dengan hanya bermodalkan daun atap dari pohon sagu maka tidak perlu ada upaya mendesak pemerintah daerah membangun infrastruktur dasar bidang perhubungan darat dan laut ke wilayah itu.

"Orang Bati bukanlah masyarakat primitif atau manusia purba yang ditakuti orang lain seperti yang digambarkan dalam tayangan acara oleh salah satu televisi swasta," kata Rais.

Mereka juga meminta pertanggungjawaban Doktor Pelupessy, salah satu dosen Universitas Pattimura Ambon yang mengategorikan orang 'Bati' sebagai masyarakat biasa dan orang 'Batti' yang bisa menghilang, terbang, atau memakan bayi dan anak-anak.

"Dosen itu harus menjelaskan apa maksudnya membedakan orang Bati dengan huruf 'T' satu dan 'TT' (Batti), sebab penjelasannya sebagai narasumber dalam acara TV membuat masyarakat adat Bati yang tersebar pada tujuh negeri sangat tersinggung dan marah," ujar orator lainnya, Fachrudin Fokmodara.

Setelah membacakan tuntutannya di hadapan Kapolda Maluku, para demonstran melanjutkan aksi mereka ke Gedung DPRD Provinsi Maluku.
Aneka 8724577380216342995

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

# DPRD MALUKU TENGAH

Indeks

# Kota Ambon

Indeks

# TNI - POLRI

Indeks

#ANEKA

Indeks

Kurs Mata Uang