Bantu Petani Maluku, Unpati Kembangkan Model Sekolah Lapang Perubahan Iklim | Berita Maluku Online Berita Maluku Online
Loading...

Bantu Petani Maluku, Unpati Kembangkan Model Sekolah Lapang Perubahan Iklim

BERITA MALUKU. Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon mengembangkan model sekolah lapang perubahan iklim untuk ketahanan pangan dan pengentasan kemiskinan guna membantu petani di tiga kawasan di Maluku untuk mengantisipasi kerawanan pangan.

"Perubahan iklim telah mempengaruhi curah hujan sehingga menggeser pola tanam. Akibatnya petani bisa gagal panen jika tidak diantisipasi, maka mengembangkan ide sekolah lapang ini," kata Ketua Tim Kajian Sekolah Lapang Perubahan Iklim untuk Ketahanan Pangan dan Pengentasan Kemiskinan, Wardis Girsang, di Ambon, Senin (22/2/2016).

Sekolah lapang tersebut, kata dia, merupakan model pendidikan bercocok tanam dengan mengandalkan hasil analisa iklim selama 20 hinga 60 tahun terakhir, dan langsung dipraktekan kepada kelompok tani di Kabupaten Maluku Barat Daya, Maluku Tenggara, dan Pulau Seram.

Program yang sedang dalam proses pengkajian data awal oleh Unpatti Ambon itu hanya dikhususkan untuk pangan lokal di kawasan kepulauan.

Karena itu, Kabupaten Maluku Barat Daya akan dikembangkan menjadi kawasan jagung, Kabupaten Maluku Tenggara mengembangkan embal dan pulau Seram menerapkan sagu.

"Kami menganalisa iklim selama 20 sampai 60 tahun terakhir dan menyusun kurikulumnya, setelah itu baru dipraktekan kepada petani, mulai dari perbaikannya tanah, bibit, masa tanam, dan panennya, termasuk pemasarannya. Pola ini hanya dikhususkan pada pangan lokal," ujar Wardis.

Dia yang juga dosen Fakultas Pertanian Unpatti Ambon itu mengatakan pengembangan model Sekolah Lapang Perubahan Iklim untuk Ketahanan Pangan dan Pengentasan Kemiskinan didanai oleh Japan-ASEAN Intergration Fund (JAIF) yang merupakan bagian dari Kedutaan Jepang untuk Misi ASEAN (Mission of Japan to ASEAN).

Program yang telah direalisasikan sejak September 2015 itu, diterapkan selama tiga tahun dengan masa pembagian kerja satu tahun untuk pengumpulan data awal, tahun kedua pengembangan model, dan praktek langsung di lapangan pada tahun ketiga.

"Pihak Kedutaan Jepang untuk Misi ASEAN merespon positif karena perubahan iklim bagi perikanan dan pertanian adalah masalah global yang mengancam. Ide ini dinilai bagus dan kalau bisa akan menjadi model di Asia Tenggara," kata Wardis.
Pendidikan 5691441669614728433

Poskan Komentar

emo-but-icon

Beranda item

# PILKADA KOTA AMBON

Indeks

# TNI-POLRI

Indeks

#PARIWISATA

# NASIONAL

Indeks

#ANEKA

Kurs Mata Uang