Pengidap HIV/AIDS di Ambon Kesulitan Dapat Obat | Berita Maluku Online Berita Maluku Online
Loading...

Pengidap HIV/AIDS di Ambon Kesulitan Dapat Obat


Ambon - Berita Maluku. Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) di Ambon kesulitan mendapatkan obat antiretroviral (ARV) jenis Efavirenz di Klinik Voluntary Conceling Test (VCT) dan Care, Support and Treatment (CST) Pombo Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Haulussy sejak 4 Juni 2015.

"Efavirenz habis lagi sejak 4 Juni, padahal akhir Mei kemarin sudah sempat kosong sama sekali selama dua hari akibat kesalahan data permintaan obat yang dikirim oleh klinik, tapi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sudah mengirim tambahan tapi hanya sebanyak 20 dus baru tiba dari Jakarta 27 Mei," kata Koordinator Jaringan Orang Terinfeksi HIV/AIDS (JOTHI) Ambon Evilin Hutuely, di Ambon, Selasa (9/6/2015).

Ia mengatakan 20 dus ARV jenis Efavirenz yang dikirim oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) berjumlah 600 butir dikirim karena menipisnya stok obat tersebut di Klinik VCT/CST Pombo RSUD dr. Haulussy sejak pertengahan Mei 2015 yang kemudian berujung pada habisnya obat tersebut pada 25 Mei hingga 26 Mei.

JOTHI Ambon, kata Evilin, juga berupaya membantu dengan meminta bantuan JOTHI Kalimatan Timur, tapi hanya bisa mendapatkan sebanyak 60 butir yang kemudian diberikan ke klinik untuk dibagi bersama Efavirenz yang dikirim oleh Kemenkes, tapi tidak dibagi secara merata kepada 130 ODHA yang menggunakannya.

"Satu dus isinya 30 butir, jadi 22 dus semuanya ada 660 butir kalau dibagi merata mereka bisa dapat lima butir per orang, obat itu kan minumnya satu hari satu kali jadi bisa lah untuk penggunaan selama lima hari, tapi pembagiannya tidak merata," katanya.

Lebih lanjut Evilin mengatakan kecurigaannya terhadap pembagian yang Efavirenz yang tidak merata kepada 130 ODHA oleh pihak Klinik VCT/CST Pombo RSUD dr. Haulussy karena ada ODHA yang melaporkan sudah tidak minum obat tersebut sejak 2 Juni 2015.

"Obat yang dikirim oleh Kemenkes kemarin itu adalah bantuan mendadak karena seharusnya obatnya bisa dikirim setelah dari sini mengirimkan data permintaan stok per bulan, dan data revisinya itu baru dikirim beberapa hari lalu, itu kan harus melewati proses, jadi kesalahannya bukan ada pada Kemenkes," katanya.

Sementara itu, Patrick Kaija, perwakilan dari komunitas ODHA Ambon mengatakan, kekosongan obat ARV di Kota Ambon bukanlah hal baru, dalam satu tahun bisa terjadi lebih dari tiga kali, kesalahan pembuatan data permintaan obat dan keterlambatan pengiriman data tersebut ke Kemenkes menjadi penyebab utama.

Hal itu, menurut dia, akan sangat berpengaruh terhadap menurunnya kondisi ODHA, terutama yang belum lama menjalani terapi ARV.

"Sudah berkali-kali terjadi, ini benar-benar keterlaluan, teman saya belum setahun ikut terapi ARV dan karena kesalahan ini, dia sudah tidak mendapatkan Efavirenz sejak 4 Juni," katanya. (ant/bm 01)
Kesehatan 2274567375257978773
Beranda item

# PILKADA KOTA AMBON

Indeks

# TNI-POLRI

Indeks

#PARIWISATA

# NASIONAL

Indeks

#ANEKA

Kurs Mata Uang