Asal Mula Nama Pulau Seram dan Putri Bulan Rapiele | Berita Maluku Online Berita Maluku Online
Loading...

Asal Mula Nama Pulau Seram dan Putri Bulan Rapiele

CERITERA mengenai nama pulau Seram menurut orang-orang Seram sendiri adalah bersumber dari seorang lelaki tua yang tinggal disebelah timur ujung pulau Seram yaitu di Seram Timur yang sekarang dikenal dengan nama kampong atau negeri Gesser.

Pada suatu hari lelaki tua itu turun ke pantai untuk melakukan barter dengan para pedagang dari luar. Biasanya lelaki tua itu menukarkan hasil hutannya seperti rotan atau kayu-kayu besar dengan kain batik, piring-piring tua besar yang disebut piring batu atau dengan peralatan music seperti gamelan atau gong yang dipakai saat melaksanakan upacara.

Karena pada waktu itu antara para pedagang dengan lelaki tua itu belum dapat berkomunikasi secara langsung karena saling tidak mengerti bahasa masing-masing maka orang-orang dari luar hanya menyebut lelaki tua itu dengan panggilan Selan atau Siran; sementara lelaki itu mengenal mereka dengan sebutan batih atau batik (mungkin saja mereka berpakaian batik karena dating dari pulau jawa).

Setiap kali berkomunikasi, panggilan-panggilan itu saja yang diketahui dan lama-kelamaan penduduk di sekitar tempat lelaki tua itu pun ikut pula bertransaksi dan kata Selan atau Siran selalu dipakai sebagai sarana berkomunikasi.

Begitu populernya sebutan Selan atau Siran sehingga hampir semua orang yang ada di pulau itu disebut dengan kata yang demikian. Pada akhirnya sesuai dengan dialek setempat kata Selan atau Siran berkembang menjadi Seram.

PUTRI BULAN RAPIELE


DI suatu tempat di puncak bukit kecil tinggalah seorang perawan cantik bernama Rapiele. Karena kecantikannya mataharipun tergoda untuk mempersuntingnya sebagai isteri. Pada suatu malam, Rapiele berjalan-jalan seorang diri menikmati cahaya sinar bulan purnama. Setelah lelah berjalan dan hari semakin larut, Rapiele berniat untuk kembali pulang ke rumahnya. Tiba-tiba di tengah jalan kakinya terperosok ke dalam sebuah lubang yang dalam dan sempit. Kakinya tidak dapat lagi ditarik keluar dari lubang itu. Sambil ketakutan Rapiele berteriak memohon pertolongan dengan harapan mudah-mudahan ada yang dapat mendengar rintihannya dan segera menolongnya.

Rintihan dan teriakan minta tolong Rapiele akhirnya terdengar sampai di telinga Isole temannya. Isole lalu mengumpulkan penduduk di sekitar tempat tinggalnya dan menemukan Rapiele sedang merintih kesakitan sambil berusaha menarik kakinya keluar dari lubang itu.

Dengan berbagai cara mereka berusaha untuk menarik keluar kaki perempuan itu namun semuanya sia-sua. Bahkan secara perlahan-lahan Rapiele mulai terperosok masuk ke dalam lubang jauh semakin dalam. Malam semakin larut dan pagipun menjelang, tubuh Rapiele semakin jauh terperosok ke dalam lubang dan lama kelamaan hilanglah seluruh tubuhnya ditelan bumi.

(Sumber: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Maluku dan Malut)
Ceritera Rakyat 7186482079152276061
Beranda item

# Kota Ambon

Indeks

# TNI - POLRI

Indeks

#ANEKA

Indeks

Kurs Mata Uang