JOSEPH KAM “RASUL MALUKU” | Berita Maluku Online | Berita Terkini Dari Maluku Berita Maluku Online
Loading...

JOSEPH KAM “RASUL MALUKU”

Makam Joseph Kam
JOSEPH Kam adalah seorang Swiss yang tinggal di Belanda. Kakeknya bernama Peter Kam adalah seorang Swiss yang datang ke Belanda tahun 1713 sebagai seorang serdadu sewaan atau tentara bayaran. Peter Kam kemudian menikah dengan seorang gadis Belanda dan menetap di Belanda. Ayah Joseph Kam adalah Jost Kam seorang tabib dan juga pedagang kulit yang sangat terkenal.

Joseph Kam mempunyai seorang kakak laki-laki bernama Samuel Kam juga seorang Pendeta, dan tiga orang adik perempuan, namun yang seorang meninggal dunia pada usia muda. Joseph Kam lahir pada bulan September 1769. Sejak kecil ia sudah harus membantu ayahnya dalam usaha perdagangan sehingga pendidikannya terbengkalai.

Joseph Kam adalah penganut Kristen yang setia. Sejak kecil Joseph Kam sudah giat mengikuti kegiatan-kegiatan gerejawi. Ayah ibunya meninggal pada tahun 1802. Joseph Kam kemudian menikah pada tahun 1804. Pada tahun 1806 Kam mengalami banyak penderitaan. Isterinya meninggal dunia, dua bulan setelah melahirkan anak perempuannya. Tidak lama kemudian anaknya pun ikut meninggal akibat penyakit kejang-kejang. Usaha perdagangan yang diwariskan ayahnya bangkrut. Semua keadaan ini memperkuat keinginan Joseph Kam untuk bergabung dengan kegiatan Misi. Ia ingin menjadi seorang pekabar Injil.

Untuk menjadi seorang Pekabar Injil, Joseph Kam harus mengikuti pendidikan Theologi. Joseph Kam belajar Theologi di Belanda dan Inggris. Di Belanda ia belajar di Rotterdam pada April 1811 dalam usia 42 tahun. Pada tanggal 16 Agustus 1812, dengan menumpang kereta api, Kam bersama dengan teman-temannya mengadakan perjalanan ke London untuk melanjutkan pedidikan di sana.

Dan pada tanggal 21 November 1813, Kam dithabiskan menjadi Pendeta. Kam menjadi sangat bahagia karena apa yang dicita-citakan itu dapat menjadi suatu kenyataan. Ia berbahagia karena turut mengambil bagian dan berperan serta dalam tugas pekabaran injil untuk menyampaikan kabar sukacita bagi banyak orang.

Pada saat Joseph Kam berada di Inggris, terdengar berita bahwa Indonesia memerlukan tenaga-tenaga pekabaran Injil untuk melanjutkan kegiatan Pekabaran injil di sana. Kam dan beberappa temannya diutus ke Indonesia. Perjalanan yang ditempuh Kam untuk tiba di Indonesia cukup lama, kurang lebih 4 bulan yaitu dari bulan Januari 1814 sampai Mei 1814.

Pada tanggal 22 Mei 1814 kapal Kam berlabuh di pelabuhan Anyer (Jawa Barat) dan pada tanggal 25 Mei 1814 mereka tiba di Batavia (Jakarta). Ketika ia tiba di Jakarta, ia mulai melakukan berbagai kegiatan ibadah bersama-sama dengan tenaga zending (pekabar Injil) lainnya yang sudah ada lebih dulu di sana.

Keadaan gereja di Jakarta saat itu sangat menyedihkan. Ketika itu kota Batavia (Jakarta) berada di bawah kekuasaan tentara Inggris dipimpin Gubernur Raffles. Ia sangat menaruh perhatian bersar terhadap kegiatan Gereja, maka ia memberi dukungan bagi Kam dan teman-temannya untuk melaksanakan berbagai kegiatan Pekabaran Injil. Di Jakarta inilah Kam ditunjuk untuk meluaskan pekerjaan pekabaran Injil di Maluku.

Untuk tiba di Ambon, Kam harus melalui Surabaya. Ketika ia berada di Surabaya, ia masih sempat memimpin ibadah-ibadah baik di Surabaya, di Sumenep maupun di Pasuruan Jawa Timur. Kegiatan yang dilakukan Kam bersama teman-temannya itu telah memberi semangat baru pada orang-orang Kristen di sana untuk giat kembali dalam kehidupan bergereja. Hampir setiap malam mereka melakukan kebaktian (ibadah). Orang-orang Kristen di sana sangat rindu untuk mendengar Firman Tuhan.

Pada tanggal 8 Februari 1815, Kam berangkat ke Ambon melalui Pasuruan. Kam tiba di pelabuhan Ambon pada tanggal 3 Maret 1815. Yang menjadi Residen di Ambon pada saat itu adalah seorang Inggris dari India yang bernama Ryam Martin. Pada tanggal 5 Maret 1815 Kam mulai memimpin ibadah Minggu di Gereja Besar di jalan AY Patty (sekarang merupakan bangunan Puskud).

Sejak Joseph Kam tiba di Ambon, tidak ada lagi rumah yang dapat ia tempati. Hanya sebuah rumah yang terletak di Tanah Tinggi dekat sungai Waitomu (sekarang depan Hotel Manise). Konon dalam rumah itu ada hantu, oleh sebab itu sejak pemiliknya meninggal, rumah tersebut tidak pernah ditempati orang. Tetapi karena Kam tidak takut pada hantu, maka ia menempati rumah tersebut.

Pada tengah malam hantu itu mulai menampakkan dirinya, mula-mula tangan, kemudian kaki, badan dan akhirnya kepala dan membentuk seorang manusia yang berdiri tegap. Hantu itu kemudian berbicara kepada Kam. “karena engkau utusan Allah, maka aku akan meninggalkan rumah ini untuk kamu tinggal. Harta saya telah saya sembunyikan dalam dinding dan akan menjadi milikmu”. Sejak itu hantu tersebut tidak pernah datang lagi.

Keesokan harinya, ketika dinding rumah itu di bongkar, terdapat harta yang mahal. Kam kemudian menyerahkannya ke Gereja untuk digunakan bagi orang miskin. Di rumah ini Kam hanya tinggal selama satu tahun.

Kam kemudian pindah ke jalan Wim Reawaru. Disini Kam mendirikan rumah untuk keluarganya sekaligus menjadi tempat katekesasi atau pertemuan-pertemuan. Ia juga mendirikan tempat penginapan, percetakan dan gereja kecil.

Pada tanggal 28 April 1815 Kam menikah lagi dengan seorang gadis Indo Belanda (Belanda campuran) bernama Sara Maria Timmerman berusia 18 tahun. Pada saat menikah Kam berusia 45 tahun. Istri Kam walaupun masih muda namun dapat membantu Kam dalam kegiatan pekabaran Injil. Ia menjadi ibu panti asuhan yang baik dan ramah, Ia juga memperhatikan berbagai kepentingan rumah piatu.

Mereka dikarunia 2 orang anak, tetapi yang seorang meninggal pada usia muda. Sedangkan anak yang kedua bernama Joseph Karel, dikemudian hari ia mengikuti jejak ayahnya menjadi Pendeta. Setahun setelah Kam menikah, ia mengajak isterinya untuk mengadakan kunjungan ke berbagai daerah di Maluku maupun di Maluku Tenggara.

Daerah pertama yang dikunjungi Kam dan isterinya adalah daerah Lease dan Saparua. Saat itu Indonesia masih dikuasai Inggris. Kam diterima dengan baik oleh orang Kristen di sana dan ia senang melihat pertumbuhan iman di daerah ini. Guru-guru sekolah selain bertugas mengajar mereka juga ikut terlibat untuk memberikan Injil sehingga perkembangan kekristenan di sana terus berkembang.

Banyak tempat penyembahan kekafiran yang dimusnakan seperti di Aboru dan Hulaliu (pulau Haruku). Hal itu dilakukan oleh Kam dalam sebuah upacara dan pernyataan tertulis bahwa umat Tuhan di sana akan setia kepada Raja Terang yaitu Yesus Kristus.

Selain mengadakan perjalanan ke Saparua dan pulau Seram, Joseph kam mengadakan perjalanan ke berbagai daerah di Maluku Tenggara. Pada tanggal 22 Maret 1833 dengan menggunakan kapal Nautulis, ia berlayar ke pulau Aru dan tiba di sana pada 22 April 1833, kemudian ke Dobo. Dari Dobo ia berlayar ke pulau Kei dan tiba di Elat pada bulan Mei, kemudian ia ke Larat.

Pada saat kapal kembali ke Banda, Kam sudah berada dalam keadaan sakit. Ia mengalami sesak napas yang membuatnya semakin lemah. Pendeta J.J. Finn yang bertugas di Banda melayani Kam dengan tulus. Tanggal 11 Juli 1833 atas bantuan Pendeta Finn, Kam kembali ke Ambon dengan kapal dagang. Ia tiba di Ambon dalam kondisi yang semakin parah. Berbagai upaya telah dilakukan untuk menolong Kam tetapi semua tidak berhasil.

Pada 17 Juli 1833, ibu Sara Maria istri Kam sangat menyadari bahwa kehidupan Kam sudah akan berakhir, maka ia meminta Pendeta Gereicke teman Kam untuk berdoa bagi Kam. Sementara Gereicke berdoa, tiba-tiba dalam keadaan yang sudah begitu lemahnya Kam berdoa; “Yesus Kasihanilah Aku” doa ini diucapkan Kam sebanyak 3 kali. Pada tanggal 18 Juli 1833 pukul enam pagi, Kam menghembuskan nafasnya yang terakhir dalam usia 63 tahun 10 bulan.

Ia disemayamkan di Gereja kecil di samping rumahnya, dan pada tanggal 19 Juli 1833 pukul 7 pagi ibadah pemakaman dilaksanakan dan dipimpin oleh pendeta Gereicke dan dimakamkan di Pekuburan Umum Belakang Soya.

Joseph Kam disebut Rasul Maluku sebab seluruh pemberitaannya dilaksanakan pada kesaksian dan ajaran rasul-rasul. Ia disebut “Rasul Maluku” karena semangat pekabaran Injilnya berapi-api dalam jiwanya. Seorang Rasul baginya adalah: “tidak ada jarak yang terlalu jauh dan tidak ada jerih payah yang terlalu berat untuk memproklamasikan Kerajaan Allah”.

Kuburan Joseph Kam menjadi saksi bahwa ada seorang pekabar Injil yang sangat gigih telah melakukan tugasnya di Ambon dan Maluku secara baik. Ia tidak menyiramkan tanaman yang sudah ada, tetapi terus berusaha untuk menanam yang baru.

Didalam perawatannya itu, tanaman-tanaman ini bertumbuh dan berkembang dengan baik. Ia memahami betul ayat Alkitab: “Aku menanam, Apolos menyiram dan Allah yang memberi pertumbuhan”, jauh sebelum GPM menjadikan ayat ini sebagai motto GPM.

(Sumber: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Maluku dan Malut)
Ceritera Rakyat 4733318504812023578
Beranda item

# Kota Ambon

Indeks

# TNI - POLRI

Indeks