Kapitan Yongker dan Asal Mula Raja Iha | Berita Maluku Online Berita Maluku Online
Loading...

Kapitan Yongker dan Asal Mula Raja Iha

YONGKER adalah seorang pemuda desa biasa yang berasal dari pulau Manipa di Seram Barat. Kedua orang tuanya telah meninggal dan kini ia hidup sendiri.

Pada suatu hari, Yongker pergi ke hutan dan menebang serumpun pohon bambu. Tiba-tiba terdengarlah suara seorang perempuan yang berasal dari rumpun bamboo itu “potong bae-bae jang sampe beta kana” yang artinya kurang lebih yaitu potonglah hati-hati jangan sampai mengenai saya.

Pemuda ini menuruti suara tersebut sehingga ia memotong dengan hati-hati. Sementara ia memotong tiba-tiba muncullah dari dalam bambu seorang putrid yang cantik. Ternyata ia adalah seorang putrid yang selama bertahun-tahun dikurung di dalam bambu. Karena tidak mempunyai sanak saudara, Yongker membawa putrid ini pulang ke rumahnya dan akhirnya menikah dengan sang putri.

Ternyata putri ini memiliki kesaktian dan setelah Yongker menikah dengannya Yongkerpun menjadi sakti. Diceriterakan ia dapat mengarungi lautan luas dengan menumpang kulit kelapa atau sehelai serabut kelapa demikian juga Yongker kebal terhadap berbagai jenis senjata tajam.

Yongker dan isterinya tidak pernah mati tetapi mereka menghilang menjadi sepasang burung merpati putih yang selalu dating membantu anak cucu yang sedang mengalami bahaya.

Ceritera mengenai kehebatan Yongker inipun sampai-sampai menjadi keyakinan sebahagian pemuda-pemuda Ambon yang menjadi tentara. Dikisahkan ketika terjadi pemberontakan RMS di tahun 1950, banyak di antara pasukan Baret Merah dan Baret Putih percaya kepada pertolongan Yongker dan isterinya.

Menurut mereka bila sedang terjadi kontak senjata dengan pasukan Apris dan tiba-tiba terlihat dua ekor burung merpati putih terbang menuju mereka, itu pertanda Yongker dan isterinya dating membantu. Yongker sering dipanggil dengan nama Tete Yongker atau Kapitan Yongker.

ASAL MULA RAJA IHA

IHA adalah nama sebuah negeri kecil di daerah pedalaman Seram Barat. Nama sebenarnya dari negeri ini adalah Ina Luhu. Saat itu masyarakat negeri Iha belum memiliki seorang Raja karena para tua adat sulit menentukan siapakah yang berhak menjadi raja di negeri itu.

Raja yang dikehendaki adalah raja bijaksana dan suka memperhatikan kesejahteraan anak negerinya. Walaupun telah berusaha mencari lewat mawe yaitu lewat cara meramal namun raja yang diidam-idamkan itu belum juga tiba.

Keadaan ini membuat hampir sebahagian besar masyarakat negeri menjadi putus asa dan sedih. Untuk itu mereka selalu meminta tanda dari roh-roh leluhur namun belum juga menerimanya.

Pada suatu hari ada seorang laki-laki pergi berburu di tengah hutan. Setelah melalui hutan belantara dan berjalan cukup jauh, ia merasa lelah dan duduk beristirahat pada sebuah batang pohon yang tumbang di tengah jalan. Sambil beristirahat, iapun mulai mengunyah sirih pinangnya. Ketika ia meludah tiba-tiba saja ia merasa batang pohon yang sedang didudukinya itu bergerak.

Terkejutlah ia dan serentak lelaki itupun berdiri dari batang pohon itu tadi. Setelah diamat-amati ternyata batang pohon yang didudukinya itu adalah badan seekor ular besar. Dengan serentak ia menyambar mancadu atau kapak untuk menebas kepala ular tersebut.

Tiba-tiba saja terdengarlah suara “jan bunuh beta karena kalo sampe beta mati maka ose pung kampong seng ada pung raja. Sakarang pulang saja nanti eso kombale lai” yang artinya janganlah kamu membunuh saya, jika sampai saya dibunuh maka kampong atau negerimu tidak akan mempunyai seorang raja. Sekarang kamu kembali saja kerumahmu nanti besok kamu kembali lagi ke sini. Pulanglah lelaki itu dan melapor peristiwa yang dialaminya itu kepada tetua negeri.

Keesokan harinya lelaki itu disertai tua-tua adat menuju tempat kejadian. Setelah tiba di sana ular besar itu tidak ada lagi tetapi di tempat itu telah tumbuh sebatang pohon kelapa yang besar dan tinggi. Ketika mereka memandang ke atas Nampak seorang anak laki-laki telanjang duduk pada sela-sela daun pohon kelapa.

Serentak dengan itu orang-orang yang ada di tempat itu membujuk anak laki-laki itu agar segera turun. Mereka membujuknya dengan cara game yaitu melambai-lambaikan tangan. Anak lelaki itu kemudian turun dari pohon dan menemui orang banyak itu. Tubuhnya yang telanjang segera ditutupi dengan sehelai kain sarung.

Masyarakat menganggap inilah tanda yang telah diberikan sang penguasa kepada mereka. Diangkatlah anak lelaki itu menjadi Raja Iha dan sejak itu pengangkatan seorang raja dari negeri Iha haruslah ditandai dengan sebuah tanda khusus.

(Sumber: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Maluku dan Malut)



Ceritera Rakyat 791098705353457741
Beranda item

# Kota Ambon

Indeks

# TNI - POLRI

Indeks

#ANEKA

Indeks

Kurs Mata Uang