Melayani Masyarakat Dengan Kekerasan, Pegawai KPLP Namrole Terancam Pecat | Berita Maluku Online Berita Maluku Online
Loading...

Melayani Masyarakat Dengan Kekerasan, Pegawai KPLP Namrole Terancam Pecat

BERITA MALUKU. Kapala KPLP Namrole, Kabupaten Buru Selatan (Bursel), Margarita Wattimury menegaskan akan memberikan sanksi tegas kepada anak buahnya, karena memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan cara kekerasan.

Pegawai honor itu akan mendapat sangsi tegas, yakni dipecat atau dipindahkan. Demikian dikarakan Wattimury kepada wartawan di ruang kerjanya, Rabu (15/8/2018).

Wattimury mengatakan, tugas dari KPLP adalah melayani masyarakat. Olehnya itu petugas KPLP harus meberikan pelayanan kepada masyarakat.

"Waktu peristiwa itu saya sedang berada di Ambon. Saya diberitahukan kapal Ferry rencana masuk jam enam (sore), tak tahunya kapal Ferry itu masuk setengah empat (soreh). Otomatis anak-anak tidak siap di lapangan, karena informasinya jam enam sore kapal Ferry masuk, tak tahunya masuk jam setengah empat, saya punya anak buah tidak siap di lapangan. Yang ada saat itu hanya satu orang anak buah bernana Leksi Lesnussa," jelas Wattimury.

Dikatakan, saat kapal Ferry masuk tidak ada petugas KPLP, saat itu rombongan bupati dengan kapal Ferry dari Tifu.

"Anak buah saya ini kasih masuk mobil pengawal bupati untuk menjemput pak bupati. Tetapi ada mobil lain lagi milik pak Koneks Sahetapy, istri dan anak mau jemput," jelas Wattimury.

Ia menjelaskan, bahwa anak buahnya memberitahu kepada istri pak Sahetapy untuk bersabar karena ada mobil yang suda masuk keluar barulah masuk.

"Memang saya batasi kendaraan masuk ke dermaga, karena kami utamakan kendaraan yang khusus untuk bongkar muat untuk kelancaran bongkar muat. Kalau ada mobil yang datang menjemput dan mengirim barang kami menyuruh parkir di tempat parkir," jelasnya.

Dikatakan, penertiban ini dilakukan agar tidak semua kendaraan masuk ke dermaga. Tetapi kalau ada hal-hal lain seperti orang sakit atau ada permintaan dari pemda untuk penjemputan, maka harus diberikan.

"Asalkan ada koordinasi lebih awal membicarakannya. Makanya anak buah saya itu katakan, kalau ada kordinasi pasti kami ijinkan, kami layani," tuturnya.

Terkait kata yang dikeluarkan anak buahnya bahwa kapala KPLP setara bupati, jelas Wattimena bahwa, karena Poly Titawael meminta nomor HP miliknya.

"Titawael keluarkan kata, mana kamong punya nomor telepon (HP), anak buah saya (Leksi Lesnussa) tidak langsung berikan, dia bilang, katong punya bos itu sama mungkin deng bupati. Kalau masyarakat minta nomor telepon tidak mungkin langsung diberikan, (Lesnussa) menjawab seperti begitu," tuturnya.

Wattimury mengatakan, bukan berarti kapala Kantor KPLP ini jabatannya sama dengan bupati, tandas Wattimury.

"Tidak seperti begitu. Tetapi maksudnya memberikan nomor (HP) miliki pimpinan tidak sembarangan. Istilahnya, memberikan pengamanan kepada pimpinan," tandasnya.

Masih kata Wattimury, bahwa mungkin ada komunikasi antara anak buahnya dengan istri Pak Sahetapy yang menimbulkan emosi dan menimbulkan pertengkaran.

"Ada pegawai yang sedang kerja speed boat, mereka ini tidak berpakian dinas, mereka katakan agar mobil mobil mundur sedikit, tetapi ada kata (dari Julian Sahetapy) ose sapa, mungkin ini membuat mereka jadi emosi, dan terjadi pemukulan itu," jelas Wattimury.

Kata Wattimury, ia suda menemui pihak keluarga korban. Jika korban membutuhkan perawatan dokter pihaknya siap membiayai dan menanggulanginya. Namun dari pihak keluarga tidak mau.

"Bagi anak dua ini, saya sudah buat keputusan saya akan buat BAP, saya akan buat pernyataan, mereka tetap dapat hukuman. Saya pilih dua, mau diberhentikan atau dipindahkan," sebut Wattimury.

Lanjut Wattimury, bahwa ada permintaan dari pihak keluarga agar jangan sampai dua orang pegawai itu dipecat. Kata Wattimury, karena dua orang pegawai tersebut adalah pegawai kontrak.

Dikatakan, karena ini menyangkut pelayanan maka pegawai KPLP harus melayani masyarakat dengan baik dan bukan dengan cara kekerasan.

"Saya sudah lakukan pendekatan dengan pihak keluarga korban, dan saya sudah menyurut keluarga (anak buah) juga lakukan pendekatan secara kekeluargaan," jelasnya.

Wattimury mengakui anak buahnya itu yang salah, karena pelayanan tidak boleh dengan kekerasan seperti begitu.

"Mereka berdua ini tetap mendapat hukuman, apalagi mereka ini bukan pegawai negeri tetapi pegawai kontrak, sewaktu-waktu bisa pemutusan kontrak, tapi mereka punya keluarga butuh biaya hidup," jelas Wattimury.

Dikatakan bahwa persoalan ini suda diselesaikan dengan pihak keluarga dan dari pihak keluarga akan mencabut perkara di polisi.

Sebelumnya diberitakan, bahwa salah satu oknum pegawai honor KPLP Namrole, Kabupaten Buru Selatan, Andi, pada Minggu sore (12/8/2018) kemarin, dalam kondisi mabuk tanpa pakaian di badan, memukul Julian Sahetapy hingga babak belur.

Peristiwa itu terjadi saat rombongan Bupati Tagop Soulisa berserta pejabat lingkup Bursel baru saja pulang dari kegiatan Pesta Teluk Tifu dengan menumpang kapal Ferry yang akan bersandar di pelabuhan Namrole.

Sebelum kapal Ferry yang ditumpangi Bupati itu tiba di pelabuhan Namrole, telah ada jemputan dari keluarga para pejabat tersebut, salah satunya adalah Julian Sahetapy, anak pejabat yang saat itu menjadi korban pemukulan oknum KPLP. Korban saat itu akan menjemput bapaknya yang akan tiba bersama bupati.

Hanya persoalan sepele yang dapat dibicarakan secara baik-baik antara pelaku dan korban soal parkir kendaraan didalam pelabuhan.

"Julian ini parkir mobil dalam pelabuhan, lalu Andi tanya siapa punya mobil, namun dia langsung memukul Julian yang saat itu datang bersama ibunya untuk menjemput bapaknya. Pelaku pemukulan saat itu berbadan telanjang dan dalam kondisi mabuk," jelas Poli Titawael didampingi ayah korban Koneks Sahetapy (pejabat) kepada wartawan di Namrole, Senin (13/8).

Tita ungkapkan, pelaku menginginkan agar Bupati Tagop Soulisa harus menghubungi pimpinannya sebelum kapal Ferry bersandar di pelabuhan Namrole.

"Masakan dia bisa bilang bahwa kepala KPLP sederajat dengan Bupati. Memang benar Otoritas pelabuhan ada pada KPLP, tetapi mereka itu kan di bawah pemda," jelas Tita.

Tita menyayangkan, pelaku pemukulan saat bertugas tidak menggunakan pakaian seragam, tetapi berbadan telanjang dan berperilaku seperti seorang preman, apalagi pelaku dalam kondisi mabuk.

"Seperti preman pelabuhan saja, berbadan telanjang dan mabuk lalu seenaknya memukul orang sembarangan. Kalau ada yang salah parkir kan dapat dibicarakan secara baik-baik. Tetapi ini tidak, dia langsung main pukul saja," sesali Tita.

Tita menjelaskan, kasus pemukulan tersebut sudah dilaporkan ke Polsek setempat untuk diproses sesuai hukum yang berlaku.

"Pihak korban sudah melaporkan kasus pemukulan ini ke pihak Polsek Namrole untuk diproses," katanya. (AZMI)
Reactions: 
Daerah 1261567153521858473

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

# Kota Ambon

Indeks

# TNI - POLRI

Indeks

#ANEKA

Indeks

Kurs Mata Uang