FADNI Mendesak Pangdam Pattimura Tarik Pasukan BKO dari Pulau Seram | Berita Maluku Online Berita Maluku Online
Loading...

FADNI Mendesak Pangdam Pattimura Tarik Pasukan BKO dari Pulau Seram

Ambon - Berita Maluku. Akibat kerap berulah setelah menegak minuman keras, warga Desa Horale dan penduduk desa-desa desa lain di Pulau Seram kini mengaku resah menyusul penempatan pasukan TNI di Bawah Kendali Operasi yang ditempatkan di wilayah itu pascabentrokkan antarwarga di Seith-Negeri Lima dan Iha-Luhu pada akhir Juli 2014 dan awal Agustus tahun ini.

Menyikapi keresahan masyarakat Seram akhir-akhir ini, Forum Anak Adat Nusa Ina (FADNI) Maluku mendesak Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) XVI/Pattimura Mayjen TNI Meris Wiryadi segera menarik pasukan TNI BKO, khususnya Satuan Tugas (Satgas) Artileri Medan (Armed) 13/Nanggala yang ditempatkan di Kabupaten Seram Bagian Barat dan Kabupaten Maluku Tengah pascabentrokan antarwarga di Desa Iha dan Luhu pada awal Agustus lalu.

’’Kami mendesak Pangdam (XVI) Pattimura segera menarik pasukan BKO yang ditempatkan di Seram, khususnya di Horale, karena keberadaan mereka sangat meresahkan masyarakat di sana. Mereka dilaporkan sering meminum minuman keras, suka menembak ke udara, dan aksi tak terpuji lainnya, sehingga sangat meresahkan masyarakat,’’ tegas Ketua Umum FADNI Maluku Joses Dos Santos Walalayo kepada pers di Ambon, Selasa (26/8/2014).

Joses mencontohkan penempatan pasukan TNI BKO di Desa Saleman dan Desa Horale, Kecamatan Seram Utara, Kabupaten Maluku Tengah.

’’Tentara BKO yang ditempatkan di situ dinilai tak punya etika dan tidak disiplin terhadap kesatuannya. Mengapa. Sebab, mereka sering buat onar setelah mabuk di Horale. Waktu mabuk ada tiga anggota TNI BKO dari Armed 13/Nanggala dan seorang anggota Polsek Pasanea bernama Bayu Daud yang menembak ke udara, sehinga membuat warga takut dan ada yang panik. Kok masyarakat tidak memicu konflik, tapi aparat keamanan yang memancing konflik antarwarga. Masak anggota TNI dan polisi berbuat begitu, ini kan keterlaluan,’’ kesalnya.

Untuk mendukung pemulihan wilayah Maluku, Joses mengimbau Pangdam Pattimura untuk menempatkan pasukan TNI dari Yonif 733 Raider dan 731 Kabaressi karena kedua batalyon ini lebih memahami kondisi psikologis orang Maluku dan dikenal disiplin dan tegas dalam pengamanan.

’’Pasukan 733 dan 731 sudah dikenal sejak lama sebagai pasukan pemukul yang tangguh. Kok mereka tidak ditempatkan di daerahnya, tapi didatangkan pasukan TNI dari luar Maluku yang notabene tak paham psikologis masyarakat Maluku, khususnya di Seram. Kami mintakan Pak Pangdam Pattimura agar bisa mengevaluasi penempatan pasukan BKO di Seram,’’ serunya.

Kepada Kepala Kepolisian Daerah Maluku Brigadir Jenderal Polisi Murad Ismail, seru Joses, diharapkan memproses oknum anggota Kepolisian Sektor Pasanea yang dilaporkan sering mabuk dan membuat ulah sehingga menyebabkan warga Horale dan sekitarnya hidup dalam keresahan dan ketakutan.

’’Bila perlu oknum polisi itu dipecat saja karena tak bisa menjadi pengayom masyarakat,’’ sebutnya.

Hingga berita ini naik cetak, belum ada pernyataan resmi Kodam XVI/Pattimura mengenai adanya laporan masyarakat Horale dan sekitarnya atas ulah tiga anggota Satgas Armed 13/Nanggala. Begitu pun belum ada keterangan resmi dari Kepolisian Daerah Maluku menyangkut keterlibatan salah satu anggota Polsek Pasanea yang kerap meresahkan masyarakat.

Namun, sesuai pemberitaan salah satu media cetak lokal, tiga anggota Satgas BKO yang membuat ulah di Horale telah dijemput Polisi Militer Kodam XVI/Pattimura untuk diproses sesuai peraturan ketentaraan. (ev/mg bm015/bm12/bm05)
Utama 7783531624182860679
Beranda item

Indeks

# Kota Ambon

Indeks

# TNI - POLRI

Indeks

#ANEKA

Indeks

Kurs Mata Uang